Bapak, Bisakah Belikan Kami Es Teh?

(cerita anak-anak berseragam pramuka menunggu piala sudirman lewat di jalan kampung) 
 
Saya bukan penggila sepak bola, Bapak. Saya Cuma nonton sambil lalu, itu pun kalau ada gol. Kalau tidak ada, ya saya lebih suka pindah acara tv lain. Kalau ada yang nggak terima, ya silahkan saja.

Tapi, Bapak, hari ini saya dibuat baper gara-gara bola. Bapak tahu arti baper, bukan? Ah, atau Bapak terlalu sibuk untuk cari tahu. Kalau Bapak tidak mengerti arti baper, sebaiknya Bapak baca banyak tulisan lain di sini.

Bapak tentu tahu persis, kalau gelaran bola di negeri ini yang nyaris berbunyi ‘ngkik-ngkik’ ini sudah hampir sampai ujungnya. Dan karena itu, piala yang katanya keren itu pun diarak sepanjang jalan. Tidak, Bapak, pialanya keren, sungguh, saya sudah melihatnya sendiri. Saya bahkan sempat mengabadikannya lewat kamera ponsel saat lewat dan saya ada di depan apotek untuk beli obat.

Gempita ini tidak dirasakan semua orang, Bapak. Apa Bapak tahu itu? Saya dan adik-adik saya ini tidak tahu menahu urusan Bapak yang satu dengan Bapak yang lain, soal pembekuan atau apalah namanya. Tapi, saya sedih karena adik-adik saya harus menghabiskan uang saku mereka untuk urusan ini.

Bapak bingung, kenapa dan apa hubungannya? Baiklah, saya coba jelaskan dengan sederhana, Bapak. Tadi siang, adik saya yang baru kelas empat eSeD itu diminta untuk berjejer di pinggir jalan yang panas sambil melambai-lambaikan bendera plastic yang batangnya dari sedotan itu. Tapi, Bapak, apalah nasib adik-adik kami itu yang harus berjejer di bawah matahari yang baru sedikit tergelincir dari ubun-ubun. Apa Bapak tahu apa yang terjadi setelahnya? Piala yang Bapak pesan secara khusus dari seniman asal Bali itu baru saja lewat di jalanan kampung kami yang ada di perbatasan ini nyaris setengah lima sore.

Bapak, kasihan adik-adik kami itu. Bau menyengat keringat mereka masih belum cukup karena masih ditambah dengan aroma matahari. Bapak, tidak sedikit dari mereka yang belum makan siang dan harus menahan lapar karena tidak berani pulang. Salut untuk adik-adik kami yang berani kabur dari terik siang tadi.

Memang, saya bersyukur, karena guru adik saya memilih memulangkan anak-anaknya daripada menunggu piala kebanggaan Bapak yang entah kapan datang. Tapi, Bapak, apalah kami ini. Kami hanya orang kecil yang harus patuh pada Bapak, bukan? Apalah kami ini, anak-anak yang tidak diizinkan pulang oleh guru-guru, karena Bapak meminta kami untuk menunggu.

Bapak, adik-adik kami ini menunggu hingga petang jelang. Hingga keroncongan nyaris tak lagi terdengar saking bisingnya. Hingga penjual es pulang dengan kantong tebalnya dan gerobak yang sudah enteng isinya. Hingga lembaran dua ribuan lusuh yang terakhir terpaksa kami habiskan untuk sekadar mengganjal haus, dengan melupakan lapar.

Begini, Bapak. Anggap saja uang saku anak-anak pinggiran seperti adik-adik kami ini dua puluh ribu saja. Separuhnya adalah jatah untuk naik bis, karena rumah yang jauh. Lalu sisanya yang tidak seberapa harus bisa dicukupkan untuk membeli sebotol air putih seharga tiga ribu rupiah. Sisanya? Apalah yang bisa dibeli dengan uang tujuh ribu saja, Bapak. Adik-adik kami ini harus menahan lapar karena hanya bisa menukar uang itu dengan semangkuk mie ayam porsi standar dengan sesendok saj suiran ayam di atasnya. Perut anak muda seperti adik-adik kami ini, mana cukup hanya diganjal semangkuk mi ayam saja, Bapak.

Ah, Bapak. Mungkin memang tidak semua adik-adik kami mengalami hal ini, karena memang tidak semua tempat mendapatkan ‘anugerah’ dari piala yang konon tersohor keindahannya itu. 


Tapi Bapak, bisakah Bapak belikan kami es teh atau es marimas hanya sekedar untuk mengganjal haus karena harus berjejer di pinggir jalan di tengah hari tadi? Saya sangat yakin, Bapak, adik-adik kami ini tentu ingin meramaikan juga acara akbar di negeri ini, seperti yang Bapak ingin tunjukkan pada kami semua. Tapi, Bapak, kenapa harus berjejer di tengah hari dengan bendera plastic di tangan? Dan yang sulit dimengerti adik-adik kami ini, kenapa mereka harus menunggu bahkan hingga senja jelang.

Bapak, saya yakin, adik-adik kami ini juga anak-anak baik yang berhak atas pendidikan yang setara dan mumpuni di negeri ini. Yang berhak juga atas perhatian Bapak. Yang ingin ditengok dan diurusi oleh Bapak secara langsung. Atau kalau perlu, adik-adik kami ini bisa bertemu langsung dengan Bapak untuk bicara sepatah dua patah kata.

Saya dan adik-adik ini tidak paham, Bapak. Ada urusan apa antara Bapak yang satu dan Bapak yang lain, yang katanya berebut entah apa. Yang katanya tarik ulur pembekuan. Kami tidak tahu alasannya, Bapak. Tapi, kalau yang terjadi di jauh sana membuat adik-adik kami ini sulit, tentu kami juga berhak bicara bukan?

Bapak, saya tidak marah kalau harus memberikan uang saku tambahan karena adik saya harus ikut ber-dadah ria di pinggir jalan menyambut piala kebanggan Bapak itu. Saya hanya kasihan, karena adik saya dan adik-adik saya yang lain harus menunggu hingga sesenja ini. Bapak, bisakah belikan kami segelas es teh untuk pengganjal haus di tengah terik siang?


seharusnya ini diposting januari lalu sih. Tapi berhubung nggak dipost di web sebelah, jadi dipost di sini aja deh ^_^

Bapak, Bisakah Belikan Kami Es Teh? Bapak, Bisakah Belikan Kami Es Teh? Reviewed by Bening Pertiwi on Februari 13, 2016 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.