Flash Fiction – Kepada Hujan yang Mempermainkan Tanah

Seperti hujan yang mempermainkan awan, hujan tidak menagih setia awan. Hujan hanya ingin tetap berada di sana, di dekatnya, menemani awan. Tapi, awan terlalu angkuh untuk mengatakan ‘Tetaplah disini!’ pada hujan. Lalu, hujan pun pergi dengan senyum yang terlewatkan.

Ah ya, masih ada badai dan petir yang menemani. Badai adalah mimik marah hujan pada awan. Tapi, awan tidak pernah mau berada di belakang. Ia memiliki petir untuk memaksa hujan menjauh, hingga akhirnya menjejak menciptakan basah dan aroma khasnya.

Tapi, tanah tidak peduli pada awan. Ia hanya setia menanti hujan. Meski pada akhirnya, hujan yang terlanjur terluka, memilih membiarkan dirinya lenyap dalam dekapan tanah gersang atau sela bebatuan. Tanah tersenyum bersama hujan yang didekapnya erat kemudian. Tapi, tanah tak pernah tega membiarkan hujan terus terluka. Pada akhirnya, tanah membiarkan hujan mengalir antaranya, menciptakan genangan kenangan mereka. Lalu, pada saatnya nanti, hujan berubah jadi uap dan kembali memimpin awan.

Hanya saja, hujan tidak pernah tahu. Kerinduannya pada awan, justru yang menghapuskan kisah mereka. Hujan tidak pernah tahu, kalau kesabaran tanah menunggunya. juga punya batas dan ujung. Tapi, hujan tetap saja bergeming, bertahan pada caranya mencintai.

Seperti itulah, awan menciptakan hujan yang dirindukan oleh tanah.
Flash Fiction – Kepada Hujan yang Mempermainkan Tanah Flash Fiction – Kepada Hujan yang Mempermainkan Tanah Reviewed by Bening Pertiwi on Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.