Story - Grup Diskusi (Katanya), Tapi Sering Emosi

Sudah jadi naluri manusia buat hidup dalam dunia social. Bahkan di jaman semua serba media social, yang justru kadang malah bikin a-sosial alias anti-sosial, bersosialisasi tetap butuh. Apalagi kalau ikut dalam sebuah komunitas, yang akhirnya menciptakan adanya grup. Meski sisi negatifnya, grup itu bikin sosialisasi terbatas, tapi lupakan sebentar deh efek ini. Tapi saat ini, sisi positif grup lebih sering dimunculkan dan jadi pembenaran bagi sebagian orang.


Grup di Facebook, Twitter, Blog dll, mungkin udah banyak ya. Sekarang yang lagi cukup ngetrends adalah grup di media social yang berbasis ponsel pintar. Menjamurnya ponsel pintar ditangkap sebagai peluang bagi sejumlah pemilik otak jenius untuk menciptakan aplikasi media social yang cocok digunakan dalam ponsel pintar. Jadi, resiko elo deh, kalau nggak punya ponsel pintar, dan nggak bisa nge-akses aplikasi ini. Eits … tapi sebenarnya ponsel gue juga nggak pintar2 banget kok, serius! Ponsel gue Cuma muat dua aplikasi media social berbasis ponsel. Hmmm … #curcol

Lupakan curcolan gue tadi!

Setelah masa keemasan Blackberry bersama grupnya, di negeri ini yang lagi rame adalah Line dan juga Whatsapp (kalau ini udah nggak apdet, sila komen ya, biar gue perbaiki). Gue nggak akan bahas soal apa jenis aplikasinya, kelebihan atau kekurannya. Gue Cuma mau bahas orang-orang yang bergabung dalam grup aplikasi ini.

Gue sendiri bergabung dalam sejumlah grup lewat aplikasi di ponsel pintar ini. Seperti umumnya manusia, isi grupnya juga macem-macem. Semua tergantung orangnya juga, pada akhirnya.

Ada grup yang isinya ceramah terus. Errrr … sering banget bagi2 BC info atau hasil ceramah. Padahal, belum tentu semua anggota grup punya waktu untuk baca tulisan panjang loh. Apa nggak ngerasa ya? entahlah. Ada grup yang isinya iklan terus. Ada juga yang ejek2an, nggak jelas. Terus ada juga yang isinya ngebully salah satu anggota grup. Hmmm … beragam ternyata.

Grup yang pada mulanya rame, perlahan akan sepi peminat kalau ternyata isinya bikin nyesek, betul nggak? Salah satunya kalau grup itu isinya marah-marah terus, menjelek-jelekkan sesuatu, atau isinya orang-orang yang mudah tersinggung. Ngomong langsung di depan mata aja, masih bisa salah paham maksudnya. Apalagi ngomong lewat tulisan, yang nggak pakai ‘nada bicara’. Ini nih yang sering jadi masalah. Gegara salah paham maksud, yang aslinya bercanda dikira serius, eh akhirnya bertengkar. Chat isinya orang marah-marah nggak jelas.

Ya model grup begini ini yang gue paling kesel. Masuk grup itu, biar bisa dapat info bermanfaat (nggak harus panjang), dan tepat guna. Secara, tulisan di aplikasi kan nggak bisa sepanjang blog. Kalau panjang jadi kelihatan monoton. Atau masuk grup itu biar bisa komunikasi lebih cepat dengan rekan-rekan satu kelompok. Jadi ya isinya, info yang jelaslah. Bukan nyampah. Iya kalau semua orang dalam grup menganggap ‘sampah info’ itu sebagai angin lalu dan bilang ‘ya udah lah’. Tapi gimana kalau ada yang merasa terganggu sama ‘info sampah’ itu? Grup juga bisa jadi tempat diskusi dengan banyak orang. Tapi bukan diskusi yang memojokkan, menghina atau bahkan membully orang.

Gue cukup selektif memilih grup. Kalau yang isinya Cuma bikin males, pilihannya dua. Pertama keluar gari grup, atau ‘silent notif’. Selesai kan? Nanti kalau ada info yang menurut gue penting dan berguna, baru deh gue muncul. Intinya sih, di manapun tempatnya, perhatikan adab bicara, bersosialisasi dan juga bergaul dengan orang deh. Bukan berarti gue sok suci, sebagai orang yang nggak pernah menyakiti orang lain. Tapi, gue nyadar betul kalau gue mungkin saja pernah menyakiti orang lain, jadi gue berusaha untuk memperbaiki diri dan mencoba sebisa mungkin bicara dan bersikap hati-hati, biar nggak menyakiti orang lain (lagi).

Eits, tapi bukan berarti gue nggak mau nge-grup lho ya. Kalau ada grup yang asyik dan enak untuk disimak. Ada manfaat yang bisa didapat, terus nggak ada orang marah-marah dan malah sering bikin ketawa karena bercanda yang nggak pake marah2, nah grup begini yang gue suka. Meski jadi silent reader, gue akan tetap memilih mempertahankan grup model begini, hehehe

Kalau dulu ada istilah mulutmu, harimaumu. Sekarang istilahnya berubah jadi jarimu, harimaumu.
Story - Grup Diskusi (Katanya), Tapi Sering Emosi Story - Grup Diskusi (Katanya), Tapi Sering Emosi Reviewed by Bening Pertiwi on Oktober 15, 2015 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.