Flash Fiction - Gerimis Milik Kita

Senja menggantungkan awan gelap yang perlahan selimuti hawa dingin antara kita. Gerimis setelahnya, adalah saksi saat dimana cerita itu bermula. Tapi, ia bertahun silam. Saat waktu-waktu antara kita tuk sua dan sapa, seperti butir pasir di pepantai. Tapi setelahnya, tanpa pernah kita tahu, butir pasir itu terbawa ombak yang berdebur menghilangkan semua kenang dan lapang.

“Dinda, belum selesai?” Mas Bimo melongok dari pintu kamar.

Kususut air mata yang nyaris tumpah di pipiku. Segera kututup diary warna hitam itu lalu memasukkannya ke laci meja deretan paling bawah. “Sebentar lagi, Mas!”

Tapi Mas Bimo bukan tipe yang begitu saja percaya. Tanpa kusadari, ia kini sudah ada di sampingku. Seperti biasa, menatap pantulan wajahku di cermin meja rias yang ada di kamar kami.

“Istriku memang cantik,” puji Mas Bimo seperti biasa. Diletakkannya tangannya di pundakku, membiarkan kepalaku bersandar di lengan kekarnya. “Jadi, siap berangkat?”

Kubalas pertanyaan itu dengan senyuman dan anggukan kepala. Sembari berdiri, kuambil tas tangan yang ada di sisi kanan meja. Setelah merapikan pakaianku sekali lagi, kuikuti langkah panjang Mas Bimo yang berjalan lebih dulu keluar kamar. Punggung itu, yang telah berkali pula, akhirnya jadi tempat terlapangku untuk mendekapnya.

Ah ya, semua barang yang kuperlukan sudah kubawa. Kecuali satu hal yang sengaja kutinggalkan. Sebuah undangan berwarna merah muda, berisi namamu dan namanya. Cerita yang jadi awal setelah akhir dari kita. Tidak, Mas Bimo tidak pernah tahu jika ada cerita kita sebelum cerita tentangnya. Dan kini, digenggam erat tangan Mas Bimo, aku kembali menyapamu yang merangkai kisah baru bersamanya. Kekasih yang telah menghapus gerimis dari kisah kita. Kekasih yang menawarkan terang dan cerah awan untukmu saja.
Flash Fiction - Gerimis Milik Kita Flash Fiction - Gerimis Milik Kita Reviewed by Bening Pertiwi on Oktober 23, 2015 Rating: 5

2 komentar:

  1. He he he...kenapa sy nangkapnya agak gala ya. Kyknya...ehm >Δ<

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya galau, soalnya tulisan belum pada selesai
      padahal dateline makin deket
      hufth

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.