Flash Fiction – Foto Ibumu

“Jadi, sekarang giliran siapa nih yang dibongkar?”

Hanya dalam hitungan detik, dompet itu sudah berpindah tangan. Sementara si empunya harus rela dihalang-halangi saat akan merebutnya lagi. Bukan, bukan karena seberapa banyak lembaran rupiah di dalamnya. Bukan juga karena foto gadis pujaan hati yang tersimpan di sana.
“Eh, ini foto siapa? Cantik!”

Si empunya buru-buru merebutnya, “Ini foto ---.”

Tidak ada foto lain. Tidak ada lembaran rupiah bertumpuk di sana. Juga tidak ada deretan kartu ATM dari berbagai tempat. Hanya selembar foto. Omelan setelahnya hanya jadi angin lalu, karena tidak ada lagi hal menarik dari dompet warna hijau kusam dengan corak mirip seragam tentara itu. Tapi pemiliknya tersenyum menatap foto miliknya.

***

“Siapa?” tanyaku pada yang lain. Tapi mereka memilih angkat pundak dan sudah sibuk mengerubungi korban selanjutnya.

Sekilas sempat kulihat. Wanita dalam foto itu cantik. Sama seperti versi tiga dimensi yang pernah kulihat beberapa hari yang lalu. Wanita yang diboncengnya sore itu, dengan gamis warna ungu lembut. Dan jangan salahkan aku jika rasa kagum ini justru makin membukit atau bahkan menggunung setelahnya.

Ibu adalah cinta pertama bagi setiap anak lelakinya. Jadi, bisakah aku yang nanti jadi cinta keduamu? 

Diikutsertakan dalam tantangan #MenulisIbu, alumni #KampusFiksi dari twitter @KampuFiksi
Flash Fiction – Foto Ibumu Flash Fiction – Foto Ibumu Reviewed by Bening Pertiwi on September 16, 2015 Rating: 5

3 komentar:

  1. Ceritanya manis. Aku setuju sama kalimat penutupnya. Salam kenal Kak Bening! Aku Mala, KF4.. : )

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga
      terimakasih sudah mampir ^_^

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.