Cerita Kampus Fiksi 13 – Jangan Menilai Buku dari Sampulnya (part 1)

Tuh kan, buat judul yang menarik memang susah-susah gampang. Dan belum nemu ide buat judul yang asyik. Jadi, sementara ini dulu ya. Oh ya, karena ini bukan tulisan serius, jadi kali ini aja, maafkan typo, salah preposisi dan juga mis-logika ya. Errr

Nama gue bening. Hmmm, bentar deh. Ada beda antara bahasa lisan gue dan bahasa tulis, jadi nggak usah protes ya. Saat ada yang tanya, apa makna #KampusFiksi buat gue? Maka akan gue jawab, #KampusFiksi itu susah lolosnya. Butuh tiga kali mencoba mengirimkan karya, hingga akhirnya gue bisa ikutan dalam keluarga #KampusFiksi. Jadi, buat yang pernah ngirim dan masih ditolak, sabar aja ya. Masih dan akan selalu ada kesempatan kok #sokKeren.

Sebenarnya, ini kedua kalinya gue ikut #KampusFiksi. Pertama, saat #KampusFiksiEdisiNonFiksi sekitar beberapa bulan silam, tepatnya Desember 2014. Kalau yang ini, cukup satu karya aja sih untuk bisa lolos. Dan tahun 2015 ini, gue kembali menyambangi aula, kamar inap dan kamar mandi gedung #KampusFiksi untuk kedua kalinya sebagai peserta #KF13. Meski sebenarnya, status asli gue adalah anak #KF18, hehehe.

Wajah familiar? Jelas ada beberapa. Tapi nggak ada mbak Ve yang dulu dengan wajah sumringah dan cerianya menyambut para peserta.

Perjalanan dimulai dari rumah gue yang ada di pinggiran kota Majenang. Yang nggak tahu, Majenang itu ada di bagian barat kabupaten Cilacap, hampir perbatasan Jawa Barat. Jadi jangan heran kalau logat gue pun sudah susah dikenali. Berbeda dengan orang Cilacap umumnya yang punya logak ngapak khas Banyumas, gue yang asli Jawa justru lebih terpengaruh Sunda. Ribet? Ok, nggak usah dipikir kalau gitu. 


Dengan bis bus jurusan Majenang-Kutoarjo, akhirnya gue sampai juga di stasiun Kutoarjo. Tapi p****t gue udah keburu tepos nih, gegara perjalanan yang biasanya Cuma makan waktu empat jam, kali ini molor jadi lima jam. Emang sih, di stasiun gue juga masih harus nunggu. Gue sampai stasiun sekitar jam empat, lalu loket tiket kereta Prameks yang akan membawa gue ke Jogja baru akan buka jam lima nanti. Dan keretanya sendiri baru akan berangkat jam tujuh lewat lima nanti. Errrr, capek nunggu, jelas! Tapi apa mau dikata, gue males naik bus jurusan Jogja yang errrr … keadaannya udah bikin frustasi duluan sih. Nunggu. Nunggu dan nunggu. Enaknya ngapain ya? Sebenarnya sih bisa aja, ngecengin mas-mas masinis muda yang pakai seragam itu. Tapi sebagai manusia yang baik, gue mengurungkan niat itu. 

Kereta datang tepat waktu. Dan berbeda dengan akhir pekan yang biasanya penuh, kali ini Prameks cukup ramah menyediakan kursi buat gue. Sampai di stasiun Tugu, Jogja sekitar jam delapan lewat delapan belas menit lah. Cuma, ternyata yang jemput masih belum datang. Nunggu lagi gitu, errrr

Hampir jam sembilan saat ada telepon masuk dari yang jemput, Mas Kiki. Iya, namanya Ka-I-Ka-I. Tapi tenang, karena gue udah pernah ketemu di KF non fiksi dulu, jadi nggak akan salah nyebut ‘mbak’ lagi kok. Nah yang lebih keren, kali ini gue dijemput nggak cuma sama Mas Kiki aja, tapi sama anak-anak KF lain juga. Eits, ternyata mereka-mereka ini punya modus, pengen jalan-jalan di Jogja. Ok, baiklah. Sebagai mantan pendatang Jogja yang baik, gue pun akhirnya ngikut mereka semua ini buat jalan-jalan dulu. Badan lengket dan pengen mandi, errr … lupakan dulu deh. Dan … usut punya usut, ternyata gue adalah peserta terakhir yang dijemput hari itu, hihihi.

Jadi malam ini, ditemani Mas Kiki, kita semua akhirnya terdampar di sebelah utara stasiun Tugu. Itu lho, tempat nongkri yang nggak pernah sepi. Gue udah pernah sih sebenarnya maen kesini sama teman. Dan sekarang maen kesini lagi rame-rame. Nah tersangka yang ngajakin gue kesini ini ada tiga orang. Ada Riyana, Maulida-Molly sama Khusnul-Enung. Lebih tepatnya sih nemenin Molly sama Enung buat nyobain kopi jos. Itu lho, kopi yang dikasih tambahan arang menyala terus pakai spesial bunyi “josss!”. Dan akhirnya kita semua menikmati malam Sabtu yang singkat disini. (Ini kalimat terakhir nggak banget ya, ihhhh). Puas ngopi joss, akhirnya gue bisa sampai dengan selamat di gedung Kampus Fiksi sekitar jam sepuluh lewat. Nggak pake lama, langsung cap-cus mandi dan tidur. Huaaaa … lope-lope kasur.

Ini cerita hari pertama. Lanjut nanti dulu ya. Gue capek ngetik nih.



Bening Pertiwi. Alumni #KFnonFiksi1 dan #KampusFiksi13. Full-time blogger dan part-time tentor. Penjaga www.elangkelana.net dan kontributor beberapa blog/website lain. Blog pribadinya ada di alamat www.beningpertiwi.blogspot.com. Buat yang pengen kenalan lebih jauh, sila hubungi di twitternya @Bening_Pertiwi atau email bening.ip2389@gmail.com

Iklan : buat yang suka Jejepangan, sila cek dan mampir di blog gue ya, www.elangkelana.net dan twitter @elangkelana_net. Siapa tahu kita samaan dan bisa ngobrol lebih jauh, hehe
Cerita Kampus Fiksi 13 – Jangan Menilai Buku dari Sampulnya (part 1) Cerita Kampus Fiksi 13 – Jangan Menilai Buku dari Sampulnya (part 1) Reviewed by Bening Pertiwi on September 04, 2015 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.