Flash Fiction – Luka Kedua

“Jika pilihan ini adil, maka aku ingin memilih menjadi putri ibuku yang baik dan menurut,” gumammu pelan.

Menjadi putri ibumu bukan perkara mudah bagimu, kan? Tentu saja. Karena tiap jalan yang kau pilih dan tiap kisah yang kau cecap setelahnya, hanya membagi luka menganga yang menyisakan perih yang sama. Kau bahkan tidak bisa berbagi luka itu. Atau sekadar membiarkannya kering sejenak.
Ah sudahlah. Kau pun tak peduli lagi kan? Mengatakan kisah ini, memperlihatkan isi hati, keduanya sama sulitnya bagimu. Meski memang mulut tak lagi terkunci, tapi kecap dan ucap tak bisa sampaikan apapun.
Flash Fiction – Luka Kedua Flash Fiction – Luka Kedua Reviewed by Bening Pertiwi on Agustus 06, 2015 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.