30 Days Blog Challenge (Day 9) – Hal dalam hidup yang harus gue Syukuri

30 Days Blog Challenge. Bersyukur itu wajib. Katanya, orang bukan bahagia lalu berysukur, tapi bersyukur baru merasakan bahagia. Ada yang sepakat? Banyak hal yang emang perlu untuk disyukuri. Apapun itu, bagaimanapun dan seperti apapun. Hal yang patut disyukuri itu adalah anugerah dalam hidup gue, atau anugerah dalam hidup yang patut untuk disyukuri?

Pertama, (seperti umumnya), gue bersyukur dilahirkan dari orang tua yang muslim dan berkesempatan menjadi muslim. Ini adalah anugerah yang paling luar biasa. Meski memang, pada akhirnya, kualitas dalam diri gue, ya ditentukan oleh diri gue sendiri. Orang tua hanya mengarahkan. Menulis di kertas putih sampai saatnya, gue sendiri yang akan melanjutkan menulis kertas itu. Seperti apa hidup gue saat ini, maka itulah yang harus gue syukuri. Harus.
Kedua, gue bersyukur memiliki orang tua dan adek yang perhatian. Ya, ada banyak hal yang berubah dalam keluarga gue. Kalau dulu, seakan hidup gue sudah diatur. Semua hal selalu diarahkan dan selalu ‘harus ini’, ‘harus itu’. Tapi sekarang, semuanya perlahan berubah. Bukan hanya ada perintah satu arah aja, tapi diskusi dan ngobrol dua arah. Meski memang, masih ada dinding tinggi yang belum mencair sepenuhnya, tapi paling nggak gue pengen perubahan ini terus berlanjut. Gue pengen dinding tinggi ini benar-benar mencair.

Ketiga, gue bersyukur tubuh gue masih lengkap dan semua dalam keadaan baik. Ya, kadang gue suka rese sih. Tubuh yang harusnya gue rawat, malah gue abaikan. Duh … parahnya gue. Mungkin ini juga yang harus gue rubah. Salah satu cara mensyukuri nikmat berupa tubuh ini, ya dirawat. Makan yang bener dan tepat waktu (penyakit anak kos) dan penuhi hak-haknya yang lain. Ah ya, kadang gue suka menganiaya mata gue, yang gue paksa ‘melek’ sepanjang malam, hahaha. Ini juga harus gue rubah

Keempat, gue masih punya beberapa sahabat yang masih sayang dan peduli sama gue. Bagi gue, pernikahan sahabat itu anugerah sekaligus musibah. Sorry, Sobat. Gue ikut bahagia saat sahabat gue menikah, menemukan belahan jiwanya, menemukan sayapnya yang separuh lagi dan menggenapkan dien-nya. Tapi, di sisi lain, pernikahan juga adalah sebuah sungai yang baru saja digali. Atau dinding yang baru di bangun. Pernikahan ngebuat ada jarak dan rentang antar sahabat. Gue ngerti, itulah hidup. Yang harus selalu berubah dan berputar. Tapi, tidak bisakah kita tetap jadi sahabat? Memang, masih ada beberapa sahabat yang tetap ‘keep contact’ meski mereka sudah menikah. Dan sahabat seperti ini yang sangat gue syukuri keberadaannya.

Kadang gue juga berpikir, apa setelah menikah nanti, gue juga akan seperti mereka? Saking sibuknya dengan keluarga baru, maka sahabat-sahabat lama agak terpinggirkan? Gue pengen protes, tapi gue juga takut, apa gue juga akan seperti itu?

Kelima, gue bersyukur bertemu orang-orang yang pernah membuat gue jatuh cinta. Meski ada kecewa dan luka yang sempat tergores, tapi pada akhirnya waktu mengajarkan kalau semua itu memang harus berubah. Salah seorang sobat gue yang penulis, pemilik akun @lujengayu, pernah nge-tweet gini, ‘waktu nggak bisa menyembuhkan luka, tapi bisa membiasakan kita dengan rasa sakitnya’. Ya, bertemu dan jatuh cinta dengan seseorang adalah anugerah dari Sang Pemilik Cinta. Dari sana, gue belajar banyak hal. Belajar mengenal dan memahami orang lain. Bahkan hingga belajar mengenal dan memahami luka.

Gue bersyukur bertemu dengan first love gue. Meski cerita kami Cuma ada di otak gue dan nggak pernah jadi kenyataan, gue tahu kalau gue nggak pernah nyesel pernah bertemu dan mengenalnya. Gue bersyukur pernah belajar apa yang namanya kerja keras, bangkit dari kegagalan dan jadi diri sendiri. Duh, Kak. Makasih banget ya.

Eh tambah satu lagi ya, bonus. Keenam, gue bersyukur kenalan dengan dunia blog dan orang-orang yang berkecimpung di dunia satu ini. Gue ketemu partner dan temen-temen nulis. Gue ketemu beragam komunitas blog. Dan yang pasti, gue ketemu temen yang bantuin gue ngelola blog. Kenapa? Karena blog adalah hal keren yang gue temui dan jadi temen gue beberapa tahun belakangan (selain buku). Blog itu seperti … pensieve (bukan emot yang ada di BBM loh ya). Tahu pelem harry potter kan? Nah, buat gue, blog itu hampir sama seperti itu.
Pada saat pikiran gue lagi ruwet, maka blog adalah cara gue mengurangi muatan negatif di dalam otak. Pun sebaliknya, kalau gue lagi happy, blog juga jadi cara buat berbagi hal itu. Gue bersyukur bisa nulis, bisa ngeBlog dan bisa ngebales komen dari temen-temen yang udah mampir ke blog gue. Meski gue masih suka ‘meratapi’ kalau maen ke toko buku, karena buku gue belum juga jadi dan dibaca, paling nggak blog mengajarkan gue buat mencicipi sensasi satu itu.

Ah sudah cukup! Mungkin nggak Cuma lima enam hal aja yang patut gue syukuri. Tapi, yakin deh … ada banyak hal yang sebenarnya patut dan harus untuk disyukuri.


Tulisan ini diikutsertakan dalam #30DaysBlogChallenge yang diadakan oleh #PelangiDrama
30 Days Blog Challenge (Day 9) – Hal dalam hidup yang harus gue Syukuri 30 Days Blog Challenge (Day 9) – Hal dalam hidup yang harus gue Syukuri Reviewed by Bening Pertiwi on Rating: 5

6 komentar:

  1. aiih,, beniiiiing nomer empat itu lhooooo bener bangeeet.... sukaaaaa!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, itu nomer empat curcol banget
      soalnya banyak kejadian gitu
      huks

      Hapus
  2. ya ampun Na, sukanya nambah2 kkkk..ingat kuota cm 5

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya nih
      kayaknya kalau nggak nambah bisa jadi bisul kali ya
      hahahaha #becanda

      Hapus
  3. no. 4 sesuatu bgt ya #terharu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, nomer empat itu
      RTable banget kan? hehehe

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.