30 Days Blog Challenge (Day 4) - Untuk Pria Supel Rasa Apel

Untuk Pria Supel Rasa Apel. Ini bukan surat cinta tentunya. Tetapi sayangnya, sebuah kekaguman pernah terpancar darinya.

Jauh dari orang tua, dan untuk pertama kalinya, kesepian perlahan melanda. Tapi suara itu, suara di malam-malam panjang itu, lewat volume minimum radio baterai, mataku masih terbuka lebar. Ya, suara itulah yang selalu menemaniku saat malam. Suara ramah dan renyahnya, yang selalu memutarkan rekuest lagu yang diminta. Suara yang membuatku terjaga, sambil mengerjakan Pe-eR atau sesekali menulis kisah di masa remajaku.
Dan saat pemilik suara itu kemudian datang ke sekolah, entah kenapa benci itu pun perlahan meluruh. Benar, aku benci pelajaran satu itu, sekaligus mencintainya. Aku benci jika aku harus menghafal teori atau kata-kata baku yang entah, penting atau tidak. Tapi aku selalu berubah bersemangat saat kau, guruku, memintaku menggoreskan pena dengan gayaku sendiri. Ya, menulis kisah dengan gayaku.

Dan saat kau benar-benar masuk ke dalam kelasku, perlahan menggores kapur dan spidol di papan depan sana. Kekaguman itu semakin membuncah. Ada saatnya, aku merasa di jurang dalam. Tapi, tahukah engkau, kata-kata itu membuatku kembali tersenyum dan bangkit. Jika ingin orang lain melihatmu, maka tunjukkanlah siapa dirimu. Dan hingga kini, kata itu masih tetap terekam dalam jejak langkahku.

Entah apa yang kau pikirkan. Atau entah kepuasan apa yang kau dapatkan. Kau habiskan pagimu menatap satu per satu kepala di dalam ruangan 8x8m bernama kelas. Setelahnya, kau akan menghabiskan sebagian malam memamerkan suaramu untuk menghibur banyak orang di udara. Ya, radio tempatmu bekerja bahkan menjadikanmu salah satu ikon mereka. Atau di akhir minggu, kau—yang memang lulusan sekolah pranata adicara—pun tidak kalah memamerkan gaya bicaramu di depan orang-orang berbaju bagus itu.
Dan entah kenapa, kisah hidup yang pernah kau bagikan pun seperti gelonggongan kayu yang sudah merah membara. Buatku ingin melakukan lebih. Dan disinilah aku terdampar. Di depan computer, menuliskan kisah ini. Dan menuliskan banyak kisah lain. Lalu, gara-gara engkau pun, aku kecanduan berada di panggung. Bercuap-cuap di depan banyak orang, meski tidak seluruhnya kumengerti cuapan itu. Meski kemampuanku masih jauh darimu, tapi … apa yang kau ajarkan, kutiru dan kujadikan teladan.

Pria supel rasa Apel … mungkin orang akan berpikir, betapa tidak sopannya bocah satu ini. Berani-beraninya dia berucap dan memanggilmu dengan cara seperti ini. Tapi, tahukah engkau pria supel rasa apel—yang adalah nama julukanmu ketika suaramu mengudara dulu—, tidak pernah ada sesal mengenalmu. Pun saat kau tidak lagi berada di depan kelas sana, berbagi serpihan jalan dan harapan, kau tetap buatku merasa penting, merasa mampu.

Ah ya, terimakasih pak Guru. Meski aku gagal jadi murid kesayanganmu di kelas, karena nilaiku tidak pernah bisa lolos dari angka 78, tapi engkau kisah terbaik yang pernah ada. Meski mungkin aku tidak bisa mengikuti jejak langkahmu, aku akan mencari cara lain untuk tetap bersinar. Dan kelak akan kubuktikan, kalau Engkau pantas bangga pernah berbagi inspirasi padaku yang bodoh ini.

Terimakasih Pak Nardi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam #30DaysBlogChallenge yang diadakan oleh #PelangiDrama


30 Days Blog Challenge (Day 4) - Untuk Pria Supel Rasa Apel 30 Days Blog Challenge (Day 4) - Untuk Pria Supel Rasa Apel Reviewed by Bening Pertiwi on Juni 04, 2015 Rating: 5

4 komentar:

  1. sedikit nyastra jg nih#good

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini tadinya mau buat lomba gitu
      tapi batal, hehehe
      dan terdampar disini

      Hapus
  2. sayang, atuh. kenapa gak buat lomba sj
    lumayan kan, buat nambah2 jam terbang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. maksudnya, udah pernah buat ikut lomba
      tapi krn nggak menang, jadi terdampar disini deh, hehe

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.