30 Days Blog Challenge (Day 2) – Sepuluh Hal yang Membuat Bahagia

Ok, kali ini bahasannya agak berat sepertinya. Ini postingan kedua untuk tantangan #30DaysBlogChallenge. Dan sebenarnya, gue juga lagi mikir. Hmmm … enaknya nulis apaan ya? Hal-hal yang membuat gue bahagia, atau ‘merasa’ bahagia. Mungkin itu dua hal yang berbeda.
Kadang bahagia muncul ketika ada momen tertentu. Jadi, penyebab bahagia adalah momen. Tapi, saat lain, kebahagiaan terasa saat proses dan hasil yang ditargetkan, akhirnya tercapai. Itu sudah beda lagi kan. Atau kadang, hal-hal kecil yang membuat bahagia. Ok, bentar, gue mikir dulu. Kebahagiaan secara teori atau kebahagiaan secara nyata? Bahagia yang tampak, atau hanya terasa dalam hati. Ah, gue nggak yakin juga sebenarnya. Ok, gue coba deh buat listnya. Mungkin gue akan berubah pikiran di akhir tulisan ini nanti, atau bisa juga nggak ada yang berubah. Atau mungkin ada beberapa yang tampak klise?

1. Melihat ibu tersenyum

Kalau yang satu ini sepertinya sudah cukup mainstream ya. Ya tapi gimana juga, ini yang paling penting. Ibu manapun paling khawatir sama anak ceweknya. Apalagi punya anak cewek Cuma satu, yang lain cowok semua. Herannya, gue selalu dilarang ikutan kegiatan ekstrem seperti naik gunung—ini bikin ibu mayun—, tapi diijinkan naik bis antar kota—bahkan antar provinsi—nggak jarang perjalanan malam, sendirian. Atau bahkan diijinkan naik motor sendirian menjejaki dua kota berjarak lebih dari 150km, sekitar 4 jam perjalanan. Hmmm … gue kadang mikir juga sih. Tapi, asal ibu bisa tersenyum, apa sih yang nggak.

2. Punya kuota internet, cukup untuk OL dan download film

Nah kalau yang ini, sepertinya juga udah jadi kewajiban untuk para penikmat drama. Nah loh, kalau nggak punya kuota, gimana mau nonton donk? Apalagi kalau yang maen blink-blink, bikin mata nggak berkedip—dan kering—lalu hati terdoki-doki. Aiiih. Obsesi satu ini sepertinya harus perlahan dikurangi ya.

3. Sewaktu ngumpul keluarga pas lebaran, pertanyaan ‘kapan nikah’ berubah menjadi ‘kapan bukumu terbit?’

Kalau yang ini, pernah baca dari status seseorang. Siapa ya? Radit, mungkin ya, atau Alit, atau Oka atau Sam atau … Furqon? Lah siapa mereka semua? Itu beberapa nama pelit-writer yang bukunya pernah gue baca. Pertanyaan yang seringkali muncul waktu ngumpul keluarga di lebaran atau kondangan, pasti ‘kapan nyusul (nikah)?’. Duh, ini kan udah mainstream banget ya. Kapan gitu, pertanyaannya diganti jadi ‘kapan buku elo terbit?’. Kalau yang ini anti-mainstream, tapi sama makjlebnya. Tapi tetep lebih membahagiakan dibanding pertanyaan ‘kapan nikah?’

4. Menyelesaikan naskah dan bisa menerbitkan buku solo. Selama ini masih keroyokan terus sih.

Ini juga obsesi. Kenapa obsesi? Karena draft banyak nganggur di lepi, tanpa minat untuk disentuh lagi. Itulah jeleknya gue, kalau lagi semangat ya semangat banget. Tapi kalau udah bosen, ya ditinggal. #DuhKak. Kapan sembuh dari penyakit ini. Padahal banyak temen-temen lain yang udah punya karya solo. Gue? Yang ada baru beberapa ‘hasil keroyokan’ alias antologi. Hmmm. Bukan nggak bersyukur. Cuma, butuh eksistensi aja sih. Masa iya, Cuma sampai level ini, harus bisa lebih baik lagi donk.

5. Jujur pada diri sendiri dan orang lain, soal perasaan, keinginan, harapan dan impian.

Nah ini yang berat. Rasanya kalau bisa melewati hal ini, pasti happy ya. Jujur soal perasaan sama orang yang disukai, eh ditolak. #DuhKak. Terus harus menahan diri, meminggirkan mimpi demi harapan orang tua. Kadang pengen banget gitu, bisa teriak sekeras-kerasnya dan bilang ‘gue pengen ini!’ Tapi, harapan orang tua juga sesuatu yang perlu dipikirkan untuk diwujudkan. Paling nggak, biar mereka bisa senyum gitu. Mungkin gue juga akan ikut bahagia melihat senyum mereka.

6. Dipertemukan calon imam, orang yang tepat dan pada waktu dan suasana yang tepat serta dilancarkan prosesnya.

Tu kan, bahas jodoh bin calon lagi. Ok, biarlah. Kali ini memang harus dibahas. Siapapun pasti pengen lah ketemu jodoh. Bahkan saat orang-orang sekitar mulai ribut dan bertanya. Ya mungkin gue orangnya kelewat cuek kali ya. Nggak terlalu menggubris pertanyaan mereka itu. Gue bilang aja, ‘ntar juga ada waktunya kq’. Bukan berarti gue nggak mau berusaha, Cuma nggak bersikap seolah ‘fakir’ banget lah, sampai galau sepanjang hari. Kan lebih asyik tuh persiapkan diri sendiri buat menjemput jodoh itu, dan sibukkan diri buat hal yang berguna. Kalau nanti ketemu jodoh itu, orang yang tepat dan pada waktu yang tepat, gue yakin gue bisa bahagia.

7. Kalau ‘site-stat’ di blog jumlahnya lebih dari empat baris, dan notifikasi ‘comment’ berkedip minta dibalas

Apa yang paling disukai para blogger? kalau ‘site stat’ di blog makin tinggi dan notif komen berkedip. Seneng itu waktu banyak pengunjung yang datang. Meski nggak semua orang merasa puas dengan tulisan kita, tapi kalau banyak yang datang kan banyak yang baca, apalagi balik lagi. Apalagi kalau ada komen. Entah saran, kritik, atau bahkan hujatan. Itu bukti kalau mereka yang baca, peduli dan mau ngasih timbal balik. Itu rasanya … seneeeeeng beud.

8. Jarum timbangan bergeser ke kiri, satu strip
Masalah cewek pada umumnya. Bahagia kalau perjuangan satu minggu menghasilkan jarum timbangan bergeser ke kiri satu strip. Sayangnya, minggu depan jarum timbangan bergeser ke kanan tiga strip. Duh, itu mah bakal mewek parah.

9. Bisa dapet buku langka yang lama diidamkan, padahal di pasaran udah nggak ada
Jenis buku apa aja yang dibaca itu kan relative ya. Tergantung selera. Nah, gue cukup suka sama buku yang nggak terlalu terkenal, penulisnya nggak terkenal dan ceritanya juga beda dari buku umumnya. Nggak jarang penulisnya bahkan masih ‘newbie’. Tapi eh tapi, buku yang jarang gitu justru menurut gue nilainya lebih tinggi. Apa yang ada di pasaran, atau apa yang dipunya temen, itu mah kalau mau baca tinggal pinjem aja, beres kan? Tapi, kalau buku yang jarang di pasaran alias langka, tapi gue bisa punya, itu baru namanya keren. Merogoh kocek lebih dalam demi buku langka? Kenapa nggak? Gue punya beberapa koleksi yang seringkali di tok-buk udah nggak ada, udah nggak terbit lagi. Bahkan gue harus memburunya ke toko buku bekas. Tapi, itulah seni dan keasyikannya.

10. Makan masakan ibu

Mainstream? Bisa jadi. Tapi, siapa sih yang bisa menandingi enaknya makanan rumahan? Satu piring nasi saja belum cukup kalau di rumah sudah ada soto dan mendoan. Ah, heem. Dan itu yang selalu dirindukan kalau pulang. Kadang, gue mikir juga. Besok, kalau udah berkeluarga, apa anak gue juga akan merindukan masakan emaknya? Lah, kalau emaknya ngga bisa masak, gimana donk? Haruskah salah satu hal yang membuat bahagia di rumah pun harus tersisihkan? Ah, semoga nggak. Jadi, gue harus kursus masak nih ya, ok. Fix. Kencur ama jahe, bedanya apa ya?

Aneh? Terlalu standar? Atau bahkan terlalu acak? Mungkin itulah salah satu kelemahan gue, berpikir acak. Agak sulit sepertinya kalau harus berpikir berurutan. Karena nggak jarang, ide itu muncul nggak tahu tempat dan waktu. Lompat sana, loncat sini. Dan si ide ini, kalau nggak buru-buru diikat, biasanya bakal mencar entah kemana. Yang parah, giliran dicari biasanya susah banget nongolnya.

Tu kan, nggak sadar kalau udah nulis tiga halaman A4. Jadi, ini beberapa hal yang—menurut gue—membuat gue (merasa) bahagia. Relative, jelas lah ya. Tapi sepertinya 10 masih kurang ya, buat ngeList alasan kebahagiaan itu. Yang pasti, saat oksigen masih murah meriah dan enak dihirup lewat hidung serta tidak harus beli di tabung, itulah bahagia yang harus selalu diSyukuri. Sederhana. Lalu, bisa menyelesaikan tulisan ini, itu juga bahagia.

Ini bahagiaku, bagaimana denganmu? #ecieeeeh

Tulisan ini diikutsertakan dalam #30DaysBlogChallenge yang diadakan oleh #PelangiDrama
30 Days Blog Challenge (Day 2) – Sepuluh Hal yang Membuat Bahagia 30 Days Blog Challenge (Day 2) – Sepuluh Hal yang Membuat Bahagia Reviewed by Bening Pertiwi on Juni 02, 2015 Rating: 5

15 komentar:

  1. wah mb aku seneng baca tulisanmu.. hehe, renyah banget kyk kerupuk.

    aku dah lama banget gak nulis, jadi kagok juga buat come back nulis di blog,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo kak apni
      huaaaaa ... klo dibilang gini, bisa2 bajuku tambah nggak muat lagi
      ayo nulis lagi
      #ups
      padahal belom sempat jalan2 ke blog temen2 yg laen, maaph

      Hapus
  2. kuota internet? ahahahaa samaaaa... paling seneng ketika dulu dipasang wifi di rumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu dia
      di rumah ada wifi, pas mo bayar, bisa2 orang rumah mencak2
      gegara diboros2in buat donlot
      hahaha
      dan akhirnya wifi di rumah dicabut, huks
      kembali ke kuota modem deh

      Hapus
  3. Mainstream tp betul juga....
    Smoga dpt hadiah na..

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih berusaha buat #moveon dari hal2 yg mainstream sih
      huks
      ^_^

      Hapus
  4. Mainstream tp betul kok...
    Smoga dpt hadiah na..

    BalasHapus
  5. Kapan bukunya terbit? heheh
    Itu setuju deh tentang jarum timbangan, hiks..
    eh, ini postingan bahagia ya ..

    Btw, salam kenal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga kak nisa (nggk pa-pa kan ya, panggil kini)
      itu ... itu ... pertanyaannya mak-jleb banget, huks
      semoga aja, bisa segera terbit #eeeeeh
      boleh lah ya, bermimpi
      ini postingan campur aduk deh kayaknya

      soal jarum timbangan, ehm ... mainstream yg nggak bisa dielakkan kan ya

      Hapus
  6. Iya ya memang nggak gampang jujur sama diri sendiri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah ikutan curcol jugaaaa
      kyaaaaa!!!
      tapi emang bener sih, kdang satu itu tuh susah emang
      salam kenal hanna-san

      Hapus
  7. Yang nomor duanya itu aku banget deh. Iya..... Kalo itu bahagiannya pake banget.:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya yg nomer dua itu
      emang jadi curcolan berjamaah ya, hihihi
      salam kenal ana-san ^_^

      Hapus
  8. ad yang samaan bahagianya sama saya #malu
    #kabur

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh ya?
      yang mana? yang mana?
      nomer dua ya, hihihihi

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.