30 Days Blog Challenge (Day 17) – Future Wedding vs Dream Wedding

Hari ketujuh belas tantangan #30DaysBlogChallenge. Duh, kemarin kan belum lama bahas status yang masih ‘single’, kenapa ini udah bahas ‘wedding’ sih, puyeng atuh. Hahahaha.

Ok lah, kalau gitu, dibahas aja. Meski nggak terlalu yakin juga, mau bahas apaaan. ‘future wedding’ vs ‘dream wedding’.

Dream wedding itu, pertama kali muncul idenya waktu kelas XII SMA. Ya ampun, apa yang dipikirkan anak 18 tahun coba. Tapi, mau gimana lagi. Di kos, anak-anak pada heboh ngobrolin soal wedding. Padahal nggak semua juga, bakalan wedding dalam waktu dekat selepas SMA. Tapi, yang diobrolin waktu itu, bukan dengan siapa-nya, melainkan seperti apa weddingnya. Mulai dari baju, warna, desain pelaminan, susunan acara dan emmmm … lagu apa aja yang bakalan diputer saat wedding. Bahkan ada temen gue yang udah lebih dulu nabung, dengan ngumpulin nasyid-nasyid ceria, demi wedding-nya yang nggak diisi dengan suara dangdutan atau campur sari-duh.
Padahal mah, belum jelas juga mau wedding sama siapa, iya nggak? Yang jelas, impian sederhana anak SMA kelas XII di kos gue waktu itu adalah … lulus SMA, terus kuliah cukup empat tahun, setelahnya kerja dua tahun dan baru menikah. Sederhana kan?

Dan sekelumit kisah masa menjelang UN kelas XII SMA itu pun akhirnya terkubur. Kesibukan paska UN, masuk perguruan tinggi, mencari pekerjaan, akhirnya meminggirkan impian ‘dream wedding’ itu sendiri. Gue? mungkin waktu itu gue juga pernah punya ‘dream wedding’, meski nggak inget persis sih. Tapi rasanya lucu aja.

Masa ‘dream wedding’ pada akhirnya usai. Nggak semua rencana indah sesuai dengan kenyataan. Ada yang ‘dream wedding’nya sesuai rencana, tapi nggak sedikit juga yang harus menunda sesi mewujudkan impian itu, salah satunya gue.

Gua males ngegalauin kapan nikah sih sebenernya. Liat aja ntar, kalau udah waktunya bakalan nikah juga. Tapi bukan berarti nggak berusaha lho ya, usaha dan doa jelas ada. Cuma, nggak usah lebay bin galau, plissss. Apalagi bagi-bagi kegalau-an, errrrrr. Itu dosa hukumnya, karena bikin orang lain ikutan sedih bin galau. #ups
Ok, sekarang bahas ‘future wedding’. Gue nggak punya rencana khusus sih, harus gimana-gimana. Syarat utamanya, kalau pertanyaan “kalih sinten?” harus sudah terjawab dulu. Nah, kalau udah terjawab, tinggal deh rencanakan yang lain. Mungkin, seperti banyak anak muda lainnya, pengennya nikah kagak perlu ribet dengan banyak tata acara. Dari acara utama sampai anak-anaknya yang berjibun. Atau ribet persiapan berbulan-bulan sebelumnya. Cukup akad, disaksikan keluarga, teman-teman dekat dan tetangga. Gitu sih pengennya. Cuma sayangnya, sepertinya keinginan itu pun nggak selalu bisa terlaksana. Beda cerita, kalau udah nyangkut orang tua. Orang tua tentu nggak bisa membiarkan acara sesimpel itu. Bukan berarti mereka memang sengaja mau ribet. Cuma masalahnya, kalau udah berhubungan dengan masyarakat, yang baik jadi bahan omongan, nah apalagi yang jelek, jelas tambah jadi bahan omongan. Duh, repotnya.

Itulah tantangan ‘future wedding’ yang sebenarnya, masyarakat. Alhasil, orang tua akan nyari jalan tengah—kebiasaan deh—yaitu dengan mengadakan acara, tetapi nggak serame dan seheboh-hebohnya.

Gue sih nggak pengen muluk-muluk ya. Cukup akad, resepsi sebentar, ketemu keluarga, temen dan tetangga. Udah gitu aja. Nggak usahlah pake prosesi adat yang ribet n njlimet. Bukan berarti nggak menghargai budaya dan adat lho ya. Cuma, nyari simple-nya aja lah. Dan yang lebih penting, sehari selesai. Soalnya di daerah gue, kalau ada punya gawe gini, biasanya bisa minimal dua hari. Soalnya banyak orang yang nggak datang sesuai jam di undangan. Nah itu, yang repot. Capeknya itu lho.

Udah ah, ribet kalau mikir wedding. Mending cari cara buat ngejawab pertanyaan “kalih sinten?” dulu aja deh. Ini lebih penting dan lebih urgent untuk diselesaikan. Kekekeke

Tulisan ini diikutsertakan dalam #30DaysBlogChallenge yang diadakan oleh #PelangiDrama
30 Days Blog Challenge (Day 17) – Future Wedding vs Dream Wedding 30 Days Blog Challenge (Day 17) – Future Wedding vs Dream Wedding Reviewed by Bening Pertiwi on Juni 17, 2015 Rating: 5

6 komentar:

  1. Hhaha, kayaknya anak muda kekinian lebih suka pernikahan yang simpel dan singkat ya
    termasuk saya. Tapi memang walimah itu gak bisa mikirin diri sendiri..
    berbagai pihak terkait juga terlibat. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. huum
      bener banget
      cuma ya itu, lagi2 walimah itu akhirnya jadi urusan keluarga besar

      Hapus
  2. Kelana suka sg pikuy, trutama piku yg plg bawah... hehehehe #salahfokus

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, itu lucu bin unyu
      warnanya juga bagus

      Hapus
  3. Setuju, simpler is better, walaupun memang ada beberapa keluarga yang mengharuskan 'prosesi' di atas segalanya sih :p

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.