Story - Mengatakan yang Sulit Diungkapkan

Ternyata bukan hanya masalah pengakuan pada gebetan dan calon pacar saja yang sulit dilakukan. Ya, masalah pengakuan perasaan pada calon pasangan saja sudah sulit. Tapi, buat gue masih ada yang lebih sulit lagi. Pengakuan pada diri sendiri dan pada orang-orang terdekat.

Bisa jujur pada diri sendiri, menerima apa adanya, mengakui semua yang ada pada diri, ternyata semua itu bukan hal mudah. Bagi sebagian orang, mudah saja. Tapi, bagi gue, itu sulit. Sesulit menjelaskan dan memaksa diri untuk menerima alasan menyukai seseorang. Atau menerima alasan dalam memilih sesuatu.
Memilih sesuatu itu bebas, bebas sebebas-bebasnya. Siapapun berhak dan bisa mengambil pilihan apapun. Tapi, konsekuensi dari pilihan itu yang nggak bisa bebas dipilih. Setiap pilihan punya pasangan konsekuensinya masing-masing, jelas. Karenanya, jujur dan mau menerima konsekuensi itu pun bukan perkara mudah.

Jujur pada orang lain, mengatakan apa yang ada dalam pikiran kita pada orang lain. Bahkan mengungkapkan keinginan tersembunyi yang sebenarnya, ternyata tidak mudah. Gue sering bermasalah dengan hal ini. Gue seringkali nggak punya keberanian untuk mengungkapkan semuanya lewat mulut gue. Nggak jarang, mulut gue terkunci tanpa memiliki kesempatan untuk jujur. Rasanya, semuanya begitu sulit untuk diungkapkan, dikatakan. Selalu ada saja yang membuat gue kehilangan kesempatan itu.

Di satu sisi, gue pengen membahagiakan orang-orang di sekitar gue. Salah satu caranya, mengikuti apa keinginan mereka. Apalagi kalau itu keinginan orang yang gue sayangi, orang tua gue. Tetapi, ada kalanya gue pengen lari dari semua ini. Ini bukan gue. Ini bukan cara gue. Ini bukan keinginan gue. Tapi, mulut gue seringkali terkunci. Gue pengen membahagiakan mereka dengan mewujudkan keinginan mereka. Tapi di sisi lain, gue juga punya keinginan sendiri yang ingin gue wujudkan.

Dan betapa sulitnya mengatakan itu semua pada mereka. Entahlah. Rasanya seperti … nggak pantas gue katakan, kalau belum ada hasilnya. Kalau belum ada bukti nyatanya. Karenanya gue lebih suka memilih diam, dalam banyak kegiatan dan apapun yang gue lakukan. Kenapa? Karena gue nggak mau melihat wajah ‘meragukan’ dari mereka, saat gue mengatakan apa ingin gue.

Kalau dipikir lagi, ini rasanya seperti memakai topeng. Benar? Seperti bukan menjadi diri sendiri. Seperti hanya mengikuti apa kata orang. Seperti robot dan boneka. Seperti semuanya sudah disusun, dan gue Cuma mengikuti kemana air mengalir. Sejujurnya, gue nggak pengen seperti itu. Gue juga pengen menjadi diri sendiri. Dan anehnya, itu bisa gue lakukan jika jauh dari rumah. Pada saat tidak ada telinga dan mata yang selalu kepo dan mengawasi semua yang gue lakukan. Pada saat gue memiliki kebebasan, apapun yang akan gue lakukan.

Gue Cuma pengen jadi diri sendiri!

Ah, apa mimpi gue masih ada?!
Story - Mengatakan yang Sulit Diungkapkan Story - Mengatakan yang Sulit Diungkapkan Reviewed by Bening Pertiwi on Mei 20, 2015 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.