Story - Aku dan FLP part 2

Lanjutan dari bagian pertama, Aku dan FLP.

Asa itu sedikit banyak kembali mekar, saat saya kemudian diterima kuliah di salah satu universitas di kota Bengawan ini. Mungkin memang ada baiknya, saya tidak punya sepeda motor kala itu. Sehingga saya punya banyak waktu untuk melihat detail kecil di sekitar saya. Sebuah pamphlet besar warna coklat yang saya lihat di depan koperasi mahasiswa di tahun 2008 itu menarik perhatian saya. Dan ulang iseng saja pun muncul. Merasa menemukan harta karun besar dan berharap tidak direbut oleh orang lain, maka saya mencopot satu-satunya pamphlet di tempat itu. Tampak konyol mungkin, tapi itulah yang terjadi.

Tidak banyak kisah setelahnya. Meski harus puasa senin-kamis demi bisa membayar biaya pelatihan—waktu itu namanya Pelat Pulpen (Pelatihan Kepenulisn dan Cerpen)—saya pun bersama dua orang kawan datang ke sebuah tempat yang sama sekali tidak pernah kami kenal. Jangan Tanya bagaimana cara kami mencapaianya. Tidak terpencil sebenarnya. Hanya saja, factor “anak baru” dan juga “buta arah” membuat kami harus merasakan tersesat lebih dulu. Untung saja, ketua FLP Solo kala itu, mas Muhammad Nurul Furqon, berbaik hati menjemput kami dan menunjukkan jalan.

Senang bukan kepalang saat itu setelah kami, saya dan teman, resmi diterima sebagai anggota FLP. Terbayang sebuah angan indah bahwa sebentar lagi kami akan bisa mencatatkan nama kami dengan embel-embel penulis. Atau bahkan menderetkan buku-buku kami di rak Gramedia dan Toga Mas.

Tapi, apakah semudah itu? Ternyata tidak, kawan. Perjuangan menjadi penulis sekali lagi tidak pernah mudah. Bahkan lebih parah dan berdarah-darah. Kuliah, organisasi kampus, kegiatan FLP dan kesibukan lain entah kenapa justru membuat saya terasing dari menulis. Oh, apa yang terjadi sebenarnya? Impian tinggalah impian. Menjadi anggota saja ternyata belum cukup membuat kami menjadi “keren”, atau hanya tampak keren diawalnya saja.

Setelahnya kesibukan seperti tidak berakhir. Sibuk mengurusi rekrutmen, justru membuat saya lupa menulis. Sampai satu tulisan saya muncul di majalah Gizone—yang saat ini pun sudah tidak terbit—dan semangat itu perlahan kembali. Bertahun setelahnya, saya banyak menghabiskan waktu sendiri tenggelam dalam banyak kesibukan. Target menulis first-novel pun masih terus tertunda dengan terlalu banyak alasan. Ah benar, dan saya sadar ini sudah 2015.

Tidak terasa tujuh tahu berlalu sejak pertama kali saya menyematkan ‘anggota FLP Solo’ di biodata yang kadang saya gunakan. Tapi, kegagalan mengajarkan saya banyak hal. Meski saya belum berhasil menambah daftar judul buku di biodata saya, saya menemukan sesuatu yang tidak tergantikan.

Seperti jamur yang subur di musim hujan dan menghilang di musim kemarau, kebersamaan dengan kawan-kawan pun kian memudar. Dan satu yang saya ingat, hanya tinggal dua kepala saja FLP Solo angkatan lima yang masih tampak kontaknya. Saya dan mbak Diah. Kemana yang lain? Saya berbaik sangka, mereka tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing, hingga jarang menampakkan wajah tetapi tetap berkarya dengan jalan masing-masing pula.

Dan awal 2015 yang lalu, rekrutmen FLP Solo angkatan 10 pun terlaksana. Rupanya sudah punya lima adik angkatan. Jangan tanya betapa malunya saya saat ditanya tentang karya. Saya hanya bisa tersenyum kecut. Ah, semoga tahun ini ada yang bisa saya telurkan.
Story - Aku dan FLP part 2 Story - Aku dan FLP part 2 Reviewed by Bening Pertiwi on Mei 16, 2015 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.