Story - Aku dan FLP part 1

Orang pertama yang memperkenalkan saya dengan FLP adalah penulis Afifah Afra lewat novel remajanya, Serial Elang. Novel yang menurut saya di awal SMA waktu itu adalah novel keren yang tidak melulu soal kisah cinta. Novel yang mengajarkan bahwa cinta tidak melulu soal lawan jenis, tetapi lebih dalam lagi merupakan persinggungan antara makhluk dan penciptanya, anak dengan orang tuanya, bahkan manusia dengan alam.

Dan dari sanalah, saya mengenal FLP.

Jika sebagian orang sudah lebih dulu mengenal kisah “Ketika Mas Gagah Pergi” bertahun sebelumnya, maka saya termasuk tertinggal jauh. Saya mengenal kisah itu justru beberapa tahun kemudian setelah saya mengenal Baginda Elang Sakti—nama karakter yang digunakan Afifah Afra dalam novelnya Serial Elang. Jika banyak orang terinspirasi oleh sosok “Mas Gagah” yang tidak hanya gagah dalam wujud, tetapi juga gagah dalam sikap, maka saya hanya mengenalnya sekilas sebagai sosok yang katanya inspiratif.

Jika sebagian orang akrab dengan sosok Mas Gagah, saya pun pernah berusaha mengakrabinya. Meski akhirnya saya gagal, dan justru lebih akrab dengan majalah yang terbit dua kali sebulan kala itu, Annida. Lewat Annida, saya mengenal banyak sekali nama-nama penulis—yang tidak saya tahu wajahnya—tetapi sangat saya hafal tulisannya. Tulisan Afifah Afra, Asma Nadia, Irfan Hidayatullah, Gola Gong, Pipiet Senja dan sederatan nama lain yang sulit saya hafal seluruhnya. Ada sebuah nama yang hingga saat ini terus saja membuat saya terkesan, tanpa tahu siapa dia sebenarnya. Dia Anggrek Bulan, dalam cerpennya Shabra-Shatila. Sebuah kisah epic di perbatasan Gaza tentang dua orang kembar yang menjadi martir. Lalu, cerpen Malaikat Kematian yang hingga saat ini masih tetap membuat saya merinding hebat.

Annida dan FLP bagi saya adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Saya mengenal penulis-penulis hebat itu dari sana. Dari sebuah jendela bernama majalah mingguan yang hanya bisa saya dapat jika agennya tidak terlambat mengantarkan. Atau harus berburu ke kota sebelah, karena sulitnya mendapatkannya. Kenapa tidak langganan saja? Tentu saja jika itu sekarang, saya akan melakukannya—berlangganan--. Tapi, berapa rupiah sih yang dimiliki oleh seorang anak SMA perantauan yang hidup di dunia kos?

Pernah sekali, ada kesempatan mbak Afifah Afra datang ke sekolah dalam sebuah acara. Saya pernah mengajukan permintaan agar bisa bergabung dengan FLP. Dan mbak Afra mengatakan, kumpulkan teman-teman kamu dulu, nanti akan dibantu diusahakan permohonan ke cabang. Atau kemungkinan kedua bergabung dengan FLP terdekat, yang saat itu FLP terdekat adalah FLP Yogyakarta. Sayangnya, geliat itu hanya seperti kembang api saja. Mekar sesaat kemudian redam selamanya. Pernah saya berpikir, kenapa tidak saya lakukan saja?

Dan akhirnya saya pun kembali tenggelam dalam ketidaktahuan dan ketidakmampuan. Belajar seorang diri lagi-lagi ternyata bukan hal mudah. Meniru dari majalah, mungkin itu yang bisa saya lakukan. Meski pada akhirnya, bahkan sebelum sempat saya sempilkan satu tulisan saya disana, Annida akhirnya tak lagi terbit. Ini fakta yang menyesakkan untuk saya. Karena, majalah lain yang saya temukan setelahnya—banyak memuat cerpen dan puisi—pun akhirnya tidak terbit lagi, akibat tuntutan industry. Aaaaah …

TO be Continue
Story - Aku dan FLP part 1 Story - Aku dan FLP part 1 Reviewed by Bening Pertiwi on Mei 13, 2015 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.