Flash Fiction - Will U Marry Me?

Kalau diizinkan pacaran, aku ingin kamu jadi pacarku  
Tapi karena dilarang, aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku 

Jika rasa cinta begitu mudah untuk dimengerti, maka tidak akan ada kisah Laila Majnun, Romeo-Juliet ataupun Yusuf-Zulaikha. Butanya cinta tidak mampu melihat jurang menganga. Lumpuhnya cinta sulitkan beranjak dari satu hati. Bahkan tulinya cinta sulit dengarkan bisikan kejujuran. Bukan cinta yang keliru. Manusia dan nafsunya-lah yang membuat cinta yang putih bersih menjadi abu-abu penuh debu.


Sahabat jadi cinta? Itu yang terjadi pada kami, lebih tepatnya, padanya. Seorang sahabat yang kukenal sejak kelas X SMA, satu departemen di organisasi.

Tapi, kini kutahu kenapa aku bertemu denganmu.

Aku tidak bisa membohongi diriku.

Aku tidak bisa menyalahkan rasa yang tumbuh subur dalam hati.

Tapi aku harus jujur, aku cinta padamu.

Will U marry Me?


“Huh? Maksudnya apaan coba?” kupandangi sekali lagi pesan masuk di ponselku. Aku sudah ada dalam bis yang akan membawaku pulang ke rumah, Sabtu siang ini. Sebelumnya kami memang punya janji untuk bertemu, dia yang memintanya. Tapi tadi dia justru sibuk dengan proyek persiapan lomba geografi-nya. Dan aku yang terabaikan setelah menunggu cukup lama di perpustakaan akhirnya memutuskan untuk pulang mengejar bis di bawah mata tajam sang pemilik siang.

“Entah apa yang dipikirkan bocah 18 tahun itu. Dia memang sahabatku. Tapi idenya untuk menikah? Wow! Ini cukup gila. Aku bahkan sama sekali belum pernah berpikir sejauh itu,” gumamku.

Kusandarkan kepalaku di kursi bis. Saat melihat sekeliling, baru kusadari hanya aku sendirian di bangku penumpang. Sopir bis yang duduk di balik kemudi sibuk memainkan benda bundar berlapis karet itu, lalu ada si kernet bis yang tampak susah payah menyalakan kreteknya sambil berdiri di pintu bis. Bis ukuran tiga perempat dua pintu ini melaju pelan meninggalkan debu jalanan di bulan Januari yang seharusnya tidak terik ini.

Ponsel warna merah muda itu kumasukkan ke kantong jaketku. Kudekap lebih erat tas di pangkuanku. Kubiarkan angin menelusuri tubuhku lewat celah sempit bajuku. Jangan tanyakan bagaimana aroma khas seragam putih abu-abu yang masih kukenakan ini. Kenapa pikiranku kembali melayang pada pesan tadi?



Flash Fiction ini Diikutsertakan pada tantangan #FiksiUntukPacar di twitter @KampusFiks. dan di post ulang untuk kepentingan blog pribadi

Note :

Ini kisah nyata menjelang UN sekian tahun silam di kelas XII SMA. Apa yang akan kau pikirkan jika tiba-tiba saja sahabatmu mengatakan isi hatinya dan mengajakmu menikah? Tentu ini ide gila. Meski dia bilang, aku akan menunggu sampai kamu lulus kuliah, dan kita akan menikah setelah kita mapan. Tapi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi selama lima tahun di kampus nantinya? Memberi harapan palsu itu jauh lebih menakutkan, dibanding tidak bisa menepatinya.

Sekarang kami sudah berbaikan. Meski usahanya bertahun setelahnya masih tetap kuabaikan. Dan akhirnya, hatinya menemukan dermaga lain tempatnya bersandar dengan nyaman. Dan sekarang aku mengerti, pria yang sesungguhnya adalah pria yang berani meminta langsung pada orang tuamu dan mengajakmu menikah, bukan hanya yang meminta jadi pacar. Terimakasih, Sobat.
Flash Fiction - Will U Marry Me? Flash Fiction - Will U Marry Me? Reviewed by Bening Pertiwi on Mei 09, 2015 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.