Story – Momen Istimewa di Bulan Maret

Story – Momen Istimewa di Bulan Maret

Kalau ada yang tanya, maka akan kukatakan Maret adalah salah satu momen menyenangkan yang nggak ingin aku lupakan. Meski, seperti tahun kemarin, di Maret kondisi tubuhku sempat drop, tapi Maret tetap Maret.
Terimakasih untuk kamu, yang lahir di bulan Maret. Untuk kamu yang mengukirkan sebuah kisah indah di masa putih-biru-ku. Untuk kamu yang memberitahukanku apa arti cinta. Untuk kamu, yang mengajarkan arti persahabatan. Untuk kamu, yang memberitahuku, mana sahabat yang tulus dan mana yang hanya pura-pura saja.

Terimakasih untuk tiap momen yang pernah ada. Untuk banyak hal yang sempat kau ajarkan padaku, meski mungkin kau tidak pernah tahu atau menyadarinya. Untuk setiap hal yang membuatku lebih baik hingga kini. Untuk banyak hal yang mengajarkanku proses menjadi lebih dewasa, hingga kini. Kau juga yang mengajarkanku perjuangan itu.

Meski, mungkin kalau boleh memilih, aku juga ingin belajar untuk jujur pada diriku sendiri, dari kamu. Itu satu hal yang lalu mungkin lupa kau ajarkan padaku. Pentingnya jujur pada diri sendiri. Keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Keberanian untuk mengatakan perasaan yang sebenarnya, padamu.

Bersama adamu, banyak hal yang pernah kurasakan, kuperjuangkan dan juga kutuliskan. Kau orang pertama yang menghiburku saat aku gagal. Kau juga orang pertama yang memintaku untuk tak pernah menyerah berjuang dan mencoba lagi. Bahkan mungkin tanpa kau tahu, kau juga alasan untukku bangkit dari semua keterpurukan yang sempat kualami. Meski lagi-lagi, kau mungkin tak pernah menyadarinya.

Bersama kisah ini, bersama adamu, kutuliskan punya banyak hal. Kurekam semua kenangan yang pernah ada lewat banyak goresan pena. Entah coretan hitam putih, puisi ataupun cerita pendek. Yang semuanya, masih tetap berkesan bagiku. Masih tetap kuingat hingga kini. Karenamu juga, ada ratusan tulisan yang terabadikan. Meski memang tetap saja, masih ada lebih banyak lagi yang belum sempat kutuangkan dalam bentuk tulisan. Atau … masih sungkan kukatakan lewat ketikan, karena aku lebih suka menuliskannya dalam ingatanku.

Dan terimakasih … jika hingga interaksi kita saat ini, kau masih mengingatku. Setelah 11 tahun berlalu, sejak terakhir kali kita sua. Kau masih ingat aku, tetangga rumah blok seberang. Atau mungkin … adik kelasmu di sekolah dulu. Yang jelas, kau masih mengingatku.

Kadang, aku ingin menanyakannya padamu. Apakah dulu kau tahu tentang aku? Selain fakta bahwa aku adik kelas dan tetanggamu. Selain fakta bahwa aku salah satu aktivis sekolah yang selalu mengekormu. Selain aku … yang seringkali dipanggil ke bawah tiang bendera selepas upacara. Selain aku, yang kutahu, sering dibicarakan oleh para guru, bahkan mungkin di depanmu dulu. Apakah pernah kau melihatku dengan cara yang lain? Pernahkah kau menganggap aku sebagai orang yang lain, tidak seperti yang ada biasanya? Aku tidak pernah tahu itu. Ya, itu karena dulu aku terlalu malu untuk bertanya padamu.

Kini? Kalau kau tanya, apakah kini aku akan melontarkan semua pertanyaan itu padamu? Tentu akan kujawab tegas, TIDAK. Bukan karena aku tidak mau tahu perasaanmu kala itu. Bukan karena aku tidak ingin membuat kisah ini benar-benar usai, the end. Aku hanya ingin membuatnya tetap seperti ini. Saat kau di mataku, tetap menjadi sosok kakak yang baik. Kakak yang masih mengenalku, mau menyapaku dan tidak canggung berinteraksi denganku. Mungkin ini caranya untuk berdamai dengan masa laluku bersamamu, menghadapinya dengan cara dewasa.

Aku memang tidak tahu apapun tentangmu. Bahkan tingkah bodohku dengan mencarimu (untuk kesekian kalinya), sempat membuatku takut kalau kau tidak mau menyapaku. Tapi, kenyataannya, kau masih tetap baik seperti dulu, mau menyapaku dan masih mengingatku dengan baik.

Biarlah aku tetap jadi pengagum rahasiamu untuk selamanya. Biarlah aku tetap menyimpan semua kisah dan perasaan ini hanya ada dalam ingatanku saja. Biarlah kini, kau dan aku memulai lembaran baru tanpa harus berkaitan dengan masa lalu. Lembaran baru sebagai rekan, eh … bisakah kita jadi rekan kerja? Memikirkan hal yang sama, merencanakan sesuatu atau merencanakan untuk melakukan sesuatu. Memikirkan ide untuk suatu karya besar. Seperti itu? Kau mau kan, Kak? Semoga kudengar kata ‘iya’ dari bibirmu itu.

Terimakasih pernah dan selalu hadir dalam hidupku. Terimakasih selalu menginspirasiku untuk melakukan banyak hal. Aku tahu, kau juga manusia biasa yang tidak sempurna. Karenanya, aku hanya ingin menjadi lebih baik. Aku ingin meniru tekad yang kau punya itu.

Tadinya aku takut, kalau interaksi ini akan kembali mengotori hatiku. Awalnya iya. Tapi, seiring waktu, aku belajar untuk menjauhkan semua pikiran tak semestinya itu. Aku belajar memikirkanmu dan menganggapmu sebagai kawan dan partner saja. Semoga ada kesempatan itu untukku.

Aku harap, anggapanmu terhadapku masih sama seperti dulu. Tidak berubah, sama seperti dulu. Anggap aku sebagai adik tingkat, tetangga dan orang yang pernah kau kenal. Itu saja. Dan satu lagi, anggap aku sebagai peluang partner kerja yang potensial, hehehe. Meski memang, aku belum bisa merubah sepenuhnya anggapanku terhadapmu. Tapi, aku berusaha untuk merubahnya. Aku belajar merubahnya. Meski aku pembelajar yang payah, tapi aku akan tetap berusaha. Seperti aku menirukan tekad itu darimu.

Oh ya, bahkan dalam interaksi kita, aku tidak pernah memanggilmu. Sekalinya kau menyebutku dengan ‘mba’. Padahal dulu kau menyebutku ‘dek’. Ah, sekalinya juga aku memanggilmu dengan ‘mas’ dan bukan ‘kak’ seperti dulu. Ah, kita pun telah berubah rupanya. Aku memanggilmu seperti itu, karena kau memanggilku dengan ‘mba’.

Tu kan ya. niatnya mah Cuma mau nulis sehalaman aja. Tapi, kalau nulis tentang kamu, Kak. Tiga halaman aja nggak kerasa. Ok, stop dulu deh.

Terimakasih selalu, inspirasiku. Kakak. Terimakasih untuk Maret indahmu.

Pstpstpst ; Oh ya, gambar di atas adalah salah satu kenangan tentang kamu yang masih tersimpan dengan aman dan terjaga dengan baik. Selembar kertas yang selalu mengingatkanku, kau menghargai seluruh usaha kerasku. Kau tahu, seberapa keras aku berusaha melakukan yang terbaik. Terimakasih.


Story – Momen Istimewa di Bulan Maret Story – Momen Istimewa di Bulan Maret Reviewed by Bening Pertiwi on April 04, 2015 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.