Flash Fiction - Pelajaran keluar dari tempurung belum usai

Flash Fiction - Pelajaran keluar dari tempurung belum usai

“Hei, Kamu! Ya Kamu! Itu, Kamu yang disana!”

Pelajaran keluar dari tempurung belum usai, tapi kamu sudah keburu pergi tanpa sempat berpamitan atau sekedar meninggalkan pondasi yang cukup kuat.
Saat itu, bertahun silam. Ah, bukankah menurutmu ini akan terdengar seperti seorang anak kecil yang merengek memimpikan balonnya yang telah terbang kembali digenggam meski genggaman kecilnya sudah penuh oleh setumpuk gula-gula?

Bertahun silam, ucapan itu kau katakan padaku, “Kamu itu itu sekumku!” ujarmu tegas.

Entah apa yang ada dalam pikiranmu saat itu, tidak ada yang berani menebaknya. Pun aku yang hanya menatap dalam diam saat memandang celah diantara dua alis tebal yang membingkai mata tajammu. Atau saat wajah-wajah lain di sekitar kita melihat dengan rona bercampur aduk, antara kaget, heran dan kecewa. Tapi tidak ada katamu lagi setelahnya. Menegaskan jika tidak perlu ada debat apalagi adu argument untuk keputusanmu itu. Dan meski aku tahu, ada bara kecewa sekaligus amarah di mata yang menatap kita dari seberang, itu sama sekali tidak membuatmu goyah. Kau hanya bungkam, untuk memastikan semua seperti apa yang kau inginkan.

Dan setelahnya, bisa kukatakan jika aku tertatih. Tertatih harus belajar sekaligus mengimbangimu yang menebarkan nafsu untuk berlari lebih cepat menyusul yang lain. Sering muncul keraguan itu, saat aku tidak yakin apakah aku akan mampu mengimbangimu. Dengan semua angan dan rencana yang telah terderet sepanjang jalanan yang mengitari tempat kita mencecap ilmu ini.

Tapi, ternyata kau juga manusia. Ada saat kau pun tertatih dan berpikir untuk menyerah. Dan saat itu, aku merasa makin jatuh. Kenapa? Karena aku hanya bisa berada di sisimu, terdiam tanpa bisa berbuat apapun. Bahkan, tak satupun kata yang mampu kuucapkan meski hanya membuat hatimu sedikit lebih baik. Apalah aku ini? Aku bahkan tak bisa memberikan apapun padamu, meski semua telah kau berikan untuk kupelajari.

Dari sana aku tahu. Dari sana pula kau mengajarkanku. Ada banyak hal yang memerlukan perhatianku. Ada banyak yang sebenarnya ingin kau lakukan, ingin kau perhatikan. Dan saat itulah, kau mengajakku turut serta. Hanya untuk membagi perhatian yang tidak mungkin kau berikan semua. Itulah caramu mengajariku. Caramu membuatku mengerti, bahwa dunia bukan hanya sekedar tentang diriku saja. Bahwa dunia tidak hanya sekedar tentang waktu 24 jam yang tak pernah cukup untuk dinikmati sendirian. Bahwa tidak ada manusia yang mampu memijak bumi dan melangkah hanya dengan kaki seorang diri.

Ya, kau mengajariku keluar dari tempurung ini. Dari gelapnya ruang 3x3 m di kamarku yang sempit. Dari balik kaca mata yang dulu hanya mampu menatap hitam dan putih. Dari balik tiap cerita yang mengalir dari bibirmu, dengan mata binar ataupun mata sayu lelahmu. Kau yang mengajarkanku warna warni dunia. Tapi, kau juga yang pergi dan hanya meninggalkan semua jejaknya.

Aku memang pembelajar payah. Bahkan setelah bertahun setelahnya, aku masih belum mampu lepas darimu. Saat aku baru saja merangkak keluar dari tempurung ini. Bahkan belum mampu memijak dengan tegak di atas setapak kecil dan licin ini, kau telah pergi. Kau bahkan belum selesai mengajariku!

“Kau mampu!” ujarmu kala itu.

Tapi, tahukah kau setelahnya? Belum mampu satu langkahpun kucoba menapak, aku telah ambruk lagi. Dan satu lagi tempurung yang sama gelap dan lembabnya tanpa kusadari telah melingkupiku. Salahkah aku? Atau aku yang terlalu bodoh karena menyalahkanmu? Atau … aku telah kehilangan kepercayaan itu padamu?

Saat aku protes, kalau pelajaran keluar dari tempurung ini belum usai, saat itu pun kau justru mengabaikanku. Lagi-lagi kau mengatakan hal serupa. Tanpa pernah kau tahu setelahnya. Tanpa pernah kau pedulikan setelahnya. Bahkan, kau pun tak lagi sempat melihat dari jauh.

Salahkah aku jika perasaan ini mekar saat ada di sampingmu? Atau, harusnya kau katakan sejak awal, “Jangan pernah jatuh cinta padaku!”, mungkin itu lebih baik. Jadi aku tak perlu merasa harus terusik saat tidak lagi bersamamu. Jadi, aku tidak perlu lagi merasa terpojok dan sendirian saat harus kembali tertatih dan mencari tongkat yang baru.

Aku hanya ingin berdiri tegak dan melangkah. Menemukan diriku yang berbeda, seperti dulu kau bisa menerimaku. Dan aku ingin bisa melakukan itu untuk diriku sendiri. Meski pelajaran keluar dari tempurung memang tidak pernah usai. Meski pada akhirnya, ingin kupilih tak pernah mengikuti pelajaran itu, darimu. Tapi aku tak ingin putus asa.

“Kau hanya belum mencoba. Dan kenapa kau protes padaku seperti ini?!”

Mungkin itu yang akan kau katakana padaku saat kutunjukkan tulisan ini. Sebuah tulisan yang diam-diam kuungkapkan, karena aku marah padamu. Kenyataannya … aku tidak pernah sanggup marah padamu.

#untuk orang yang tidak pernah menyelesaikan pelajarannya, keluar dari tempurung.
Flash Fiction - Pelajaran keluar dari tempurung belum usai Flash Fiction - Pelajaran keluar dari tempurung belum usai Reviewed by Bening Pertiwi on April 01, 2015 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.