Flash Fiction – Senja 17 Maret

Flash Fiction – Senja 17 Maret

Angin lembab bulan Maret menderu diantara terik siang menyengat yang membawa secuil tawa di akhir perjuangan kami. Bentang menghijau berbatas bukit dan danau di Jambusari itu mengajarkan kami arti perjuangan yang tak mengenal ujung. Kami, aku, kamu dan mereka semua.

Kalau boleh kuceritakan, maka hari ini bukan hari yang indah untuk dikenang. Kami kehilangan salah seorang sahabat kami, dalam deru cepat yang suaranya serupa desing peluru yang melintas hanya dalam hitungan senti dari indera pendengar kami. Entah apa yang terjadi sebenarnya. Tapi, senja itu jadi senja paling kelabu yang pernah kutahu.


Berkejaran dengan sang pemilik masa, tapi akhirnya kami dipaksa menyerah. Tanpa tahu apa yang tengah terjadi di belahan bumi yang telah dipeluk oleh gelap. Dan wajah-wajah pias yang menanti kami di rumah. Lalu pelukan di tengah derasanya air mata. Tanpa tahu, ini belum berakhir.

Aku pun berjuang melawan rasa takut itu. Aku berharap berhenti merasakan bumi berputar saat berpapasan dengannya atau hanya sekedar mendengar derunya. Ah, sulit rasanya menceritakan ini.


Note :

Bertahun setelahnya, aku berjuang menaklukkan rasa takutku untuk naik truk ataupun bertemu dengan truk warna hijau gelap yang serupa dengan baju loreng mereka. Itu saat di SMA. Bahkan saat kuliah, aku pun harus memejamkan mata berkali-kali, hanya agar aku berani menjejakkan kakiku ke atas truk warna hijau tua itu.

Hanya saja, hingga saat ini aku masih belum juga bisa menjelaskan rasa takut dan engganku saat melihat air laut. Entah itu karena trauma waktu itu yang belum sembuh, atau oleh alasan lain. Aku suka laut, suka sekali. Aku suka bermain air. Tapi aku masih belum bisa membiarkan tubuhku seluruhnya terkena air laut. Aku suka keceh, tapi kalau harus berbasah-basahan hingga atas … aku masih belum bisa.
Flash Fiction – Senja 17 Maret Flash Fiction – Senja 17 Maret Reviewed by Bening Pertiwi on Maret 16, 2015 Rating: 5

2 komentar:

  1. This is very dark...terasa sedihnya

    May he rest in peace

    Hira

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, nggak tahu kenapa, aq selalu inget sama momen senja itu
      mungkin temen2 lain udah pda nggak inget, tapi aku ... nggak bisa lupa

      dia yg meninggal cewek
      namanya sama persis dg nama tengahku

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.