Flash Fiction – Bisakah kuhapus tanda ‘retweet’?

Flash Fiction – Bisakah kuhapus tanda ‘retweet’?

“Kamu punya kenalan penulis nggak? Yang kira-kira mau diminta nulis biografi?” tanyamu lewat pesan langsung di jejaring social putih biru, dengan symbol burung mungil berwarna putih.

Ya, kira-kira itulah kalimat yang kau katakan. Entah kau benar-benar membutuhkannya, atau ini hanya sekedar basa-basi saja. Aku tidak tahu. Ini salahku, tentu saja. Jika tanda ‘like’ dan ‘retweet’ bisa kuhapuskan hari itu saja, semua tidak akan seperti ini. Jariku kala itu tidak sekata dengan otakku. Dan, parahnya kau pun meresponnya. Duhai hati, bisakah kau berhenti mendendangkan debaran lama? Debaran yang lama telah terkubur dalam kenang masa muda. Duhai hati, kau tahu kan, kalau kisah itu harus sudah terkubur dalam, dan tak bisa dibuka lagi. Duhai hati, kau juga tau kan, jika hatinya telah termiliki oleh ikatan suci.

Tapi kita bicara sebagai manusia dewasa. Yang tak lagi mengungkit yang telah lama. Ya, aku belajar mengerti dan memahami. Aku belajar meminta hati untuk berhenti, dari semua rasa dan harap semu. Perlahan, meski perlahan.

Jika doa yang kupinta tak dijawab dengan sua, rupanya ini alasannya. Karena menata hati bukan perkara mudah. Karena hati adalah urusan tak tertebak. Mungkin lebih baik seperti ini. Sua jadi jawab doa, saat hati telah mampu jadikan semua hanya kenangan saja.

“Ada. Ini profilnya,” ujarku mengetik balasan. Tidak lupa kusertakan profil rekomendasi untuknya. “Semoga bisa membantu,” tapi ini tidak kuketik, melainkan hanya kuucap dalam diamku.
Flash Fiction – Bisakah kuhapus tanda ‘retweet’? Flash Fiction – Bisakah kuhapus tanda ‘retweet’? Reviewed by Bening Pertiwi on Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.