Flash Fiction - Ajariku Tersenyum (Lagi)

Flash Fiction - Ajariku Tersenyum (Lagi)

Jika melupakanmu adalah cara terbaik membunuhku, maka mengenalmu adalah dosa terbaik yang pernah kulakukan. Jangan tanyakan kenapa, karena saat kita sua, kita tidak pernah menyangka. Aku, kamu dan kita. Lalu, mereka yang ikut memekarkan kisah kita.
“Kalau ada apa-apa, kamu bilang aja sama aku. Aku akan tetap berusaha bantu, meski dari luar,” ujarmu sore itu.
Kau ajarkanku cara tersenyum, meski pahitnya cela masih terasa di lidahku. Kau ajarkanmu melihat sekeliling, meski nyerinya luka masih membekas di tubuhku. Kau ajarkanku arti mengalah, meski amarah masih membuncah di dalam dada.

Lalu, sekarang saatnya kau pergi. Saatnya kau tak ada lagi menemaniku memberesi senja di ruang yang kita sebut sekre itu. Tidak ada lagi deru motormu yang menerobos hujan, demi menghindari tubuhku dari basah. Dan aku pun kehilanganmu. Meski kau tetap mengatakan hal yang sama, tapi semua tak akan sama lagi. Kau, aku dan kita.

Dan kini … aku hanya bisa memandangimu tersenyum menatap matanya, dari jauh. Dia, kekasih yang kau cinta. Aku? Aku hanya setitik kisah, yang mungkin setelah ini akan kau lupakan.

Jadi, jika saat ini aku pun tak mampu tersenyum, jangan salahku aku. Karena tidak ada lagi yang ajariku tersenyum, seperti caramu rekahkan senyum di wajahku, meski hujan mengguyur langkah kita.
Flash Fiction - Ajariku Tersenyum (Lagi) Flash Fiction - Ajariku Tersenyum (Lagi) Reviewed by Bening Pertiwi on Maret 18, 2015 Rating: 5

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.