Cerpen - Trims

Cerpen - Trim’s

(cerpen ini diterbitkan bersama nominator dan pemenang lomba cerpen Pelajar, dalam antologi "Hitam Putih Abu-Abu terbitan AG Publishing tahun 2012)


“Hai Nin, sorry ganggu. Eh, Early mana, mau pinjem laporan praktikum nih,” ucapnya tanpa basa basi.

Si tuan rumah yang sedang duduk di depan meja belajarnya hanya tersenyum sambil mengarahkan pandangannya ke arah ranjang. Dan, ups . . . di sana tampak gadis lain berambut panjang yang tengah tertidur pulas memeluk bantal.

“Itu . . . Early?” ucapnya tak percaya.
Si gadis yang ditanya mengangguk mengiyakan.

“Jam segini udah tidur? Ga salah tuh?“ ucapnya lagi mencoba meyakinkan.

“Iya. Kebiasaannya emang gitu. Habis maghrib tidur, nanti bangun jam sembilanan, sampai jam satu atau jam dua gitu deh. Eh iya, tadi mau pinjam apa, nanti aku sampaikan,” tawarnya.

“Hehe, itu laporan praktikum minggu ini. Aku belum buat. Padahal dikumpulin besok. Eh, kalau aku pinjem punya kamu aja gimana?”

“Oh gitu, boleh aja. Tapi datanya beda, gimana?”

“Ga apa-apa koq. Trim’s ya.”

* * *

“Oke, masih tetep stay cool and stay tune bareng Imam pria supel rasa apel disini yang bakal nemenin kawula muda semua sampai dini hari nanti. So, buat kamu-kamu yang pengen say hello and kirim-kirim salam, atau request lagu, langsung aja tembakin sms kamu di 085612345678. Dan lagu pertama yang bakal Imam puterin adalah lagu yang tadi udah di request sama listener’s setia kita. Ini dia, Nuansa Bening from Vidi Aldiano. Check it out.”

Sayup-sayup suara merdu Vidi mengalun dari radio FM yang dipasang mode minimum volume. Ya maklum saja, ini sudah jam sebelas malam. Waktu bagi kebanyakan orang untuk istirahat atau tidur. Tapi ini tidak berlaku bagi Early. Baginya, jam sebelas malam justru start yang paling menyenangkan untuk memulai aktivitas dan segala hal yang berbau belajar. Sangat tepat kalau ia dijuluki kelelawar malam oleh sahabat sekaligus teman sekamarnya yang sudah tampak terlelap di ranjang, Anin.

Setelah menggelar karpet dan memasang meja lipat serta beberapa buku yang siap digunakan, tidak lama Early sudah sibuk dengan pekerjaannya. Menyelesaikan beberapa soal matematika favoritnya, menyeruput kopi cappuccino yang masih panas mengepul sambil mendengarkan suara panyiar di saluran favoritnya.

* * *

“Ly, bangun. Udah pagi. Semalem mpe jam berapa sih?”

“Hmmmph . . . ,“ gadis berpiyama biru itu menguap sambil meregangkan badannnya setelah suara teman sekamarnya ini akhirnya berhasil membuatnya terbangun.

“Ye, ni anak. Bangun non, udah setengah enam nih. Shubuh-an, buruan!”

“Iya, iya. Ini aku bangun,” Early masih saja ogah-ogahan.

“Semalem sampe jam berapa sih?” Tanya Anin.

“Hehe, biasa sih sebenarnya. Jam satu. Tapi berhubung tema obrolan semalem asyik, aku habis itu ga bisa tidur,” Early masih asyik menggerakan tubuhnya sembari beranjak ke depan cermin, dan ternyata di sana ada pemandangan yang sangat tidak enak dipandang. Seorang gadis berambut panjang yang . . . acak-acakan.

“Kebiasaan sih. Udah sana cepetan, shubuh udah habis tahu. Mandi buruan, nanti telat aku yang repot dech,” ucap Anin sambil berusaha mendorong Early menuju pintu.

“Eh tapi suer deh, semalem tuh seru banget. Secara ya, tema obrolan tadi malem tuh tentang CLBK gitu dech. Banyak yang ikutan. Apa lagi yang siaran tuh . . . “

“Ya ampun Li, segitu ngefans-nya kamu sama . . . siapa tuh?” Anin heran dengan tingkah sabahatnya ini.

“Imam, Imam namanya. Uuh . . . suaranya, mak nyos, hehe.”

“Heran dech, segitu ngefans-nya kamu sama dia. Ngefans orangnya, suaranya atau obrolannya sih? Lagi pula, bukannya dia tuh guru bahasa yang baru itu ya? Katanya udah nikah, terus yang kamu suka apanya?” Anin berpikir sambil garuk-garuk kepala, tidak bisa memahami jalan pikiran teman sekamarnya ini.

“Ada dech . . . ,“ Early tersenyum nakal penuh misteri.

“Udah buruan mandi!” sembur Anin selanjutnya sambil meraih bantal dan bersiap melemparkannya ke sarah Early.

Sementara yang merasa terancam langsung cabut keluar kamar sambil menutup pintu, mencoba menghindar dari “serangan” bantal terbang di pagi hari.

* * *

“Kenapa tuh muka, suntuk banget?” ucap Anin sambil merapikan seragam putih abu-abu yang sedang dikenakannya.

“Bete, kesel!” jawab Early masih dengan wajah merengut dan tatanan rambut yang acak-acakan.

“Yach, dia marah. Ly, kenapa sih. Ga ada angin ga ada ujan, marah-marah ga jelas. Pamali tahu, cewe pagi-pagi marah-marah,” ucapnya sambil memasukan buku-buku untuk pelajaran hari ini. “Eh, tumben ni PR belum selesai. Jam pertama matematika kan?” ucap Anin melihat buku pekerjaan Early masih berantakan di meja belum selesai dikerjakan.

“Rese ah. Kesel nih!”

“Iya, tapi kenapa? Bukannya biasanya kamu jadi yang pertama untuk urusan satu ini. Apalagi matematika. Emang semalam kemana?” ucap Anin lebih lunak, karena percuma meladeni kemarahan Early—kalau lagi marah—.

“Au dech.”

Kali ini Early benar-benar kesal tanpa jelas sebabnya. Dan yang jadi sasarannya jelas teman satu kamar kosnya, Anin.

Untungnya Anin bukan tipe orang yang suka ambil pusing, apa lagi diambil hati. “Ntar juga sembuh sendiri,” batinnya, beranjak mengenakan sepatu dan bersiap berangkat ke sekolah.

* * *

Early masuk kamar dengan wajah cemberut tidak jelas. Jam di dinding masih menunjukan pukul satu lewat empat puluh lima menit. Dan bukan kebiasaan Early untuk pulang lebih cepat dari jam empat sore—kebiasaan menghabiskan waktu selepas pulang sekolah dengan nongkrong di perpus sekolah yang super adem, bukan belajar atau mencari buku, tapi baca komik, online atau tidur. Ini kebiasaan baik atau buruk sih?—yang jelas ini di luar kebiasaan Early.

Jam dua lewat lima belas menit, dan Anin baru saja membuka pintu kamar kosnya. Ups . . . didapatinya pemandangan yang tidak biasa. Ada gadis berambut panjang yang tengah lelap tertidur di ranjang masih lengkap dengan seragam putih abu-abu yang dikenakannya sejak tadi pagi. Siapa lagi kalau bukan Early. Anin Cuma geleng-geleng melihat “aksi” tidak biasa sahabatnya ini.

“Paling-paling ntar kalau udah on, dia bakalan cerita juga koq,” Anin membatin.

* * *

Dua hari kemudian,

“Ly, ayo berangkat. Udah setengah tujuh lewat nih,” ujar Anin sembari menyelesaikan prosesi memakai sepatu sebelum berangkat sekolah.

Beberapa menit berlalu. Tapi si pemilik nama yang tadi dipanggil belum tampak juga batang hidungnya. “Ni anak masih bad mood kali ya. Kemaren uring-uringan ga jelas. Hari ini juga masih kayak gini. Kenapa ya? Masalah cowok, kayaknya ga mungkin dech. Early kan alergi gimana . . . gitu sama cowok, maksudnya ga mau kalah sama cowok. Jatuh cinta, tapi sama siapa?” Anin hanya bisa menduga apa yang sebenarnya tengah dipikirkan sahabatnya itu. Karena Early tak kunjung muncul juga, Anin memutuskan untuk berangkat lebih dulu.

Baru beberapa langkah, terdengar sebuah suara memanggilnya.

“Nin, tunggu . . . !”

“Kirain ga masuk,” ucapnya sambil menunggu Early menjejari langkahnya. “Eh Ly, boleh tanya ga?”

“Boleh, tanya aja. Ada apa?”

“Hmm, rupanya suasana hatinya udah lebih baik daripada kemaren,” Anin membatin.

“Nin . . . ,“ suara Early membuyarkan lamunan Anin.

“Eh, iya. Tapi jangan marah ya. Beberapa hari ini, kamu cemberut terus, ada apa sih? Something happen, . . . jatuh cinta, misalnya,” akhirnya dugaan yang sempat mampir di pikiran Anin dikatakannya juga.

Mendadak Early menghentikan langkahnya dan menatap Anin. Kontan saja, Anin yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah. Mereka terdiam beberapa saat.

“Sorry, Nin,” ucap Early kemudian, lirih.

Anin tambah bingung dengan ulah sahabatnya ini.

“Dari mana ya harus mulai cerita . . . ,“ Early berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. “Mmm, udah tiga hari Imam ga siaran. Kan aku jadi ga bisa konsen belajar kalau malam . . . ,“ ucapnya kemudian.

“Jadi, soal Imam lagi?”

“Iya. Apa lagi aku juga PMS,” jawab Early polos.

“Ha ! Istilah apa lagi tuh?”

“PMS, Nin. Pra Menstruasi Syndrome. Gitu dech.”

Anin mencoba menahan tawa mendengar penjelasan sahabatnya itu. Tapi akhirnya tidak tahan dan tawanya meledak juga.

“Ya ampun, jadi ini masih tentang Imam alias Pak Ardi, guru baru itu. Kalau alasan kedua, aku masih bisa maklum. Tapi alasan pertama . . . jangan-jangan kamu naksir Pak Ardi beneran?” goda Anin kemudian.

“Anin . . . !” Early mengambil bukunya dan bersiap melayangkannya ke arah Anin.

Tapi rupanya Anin cepat menghindar. Dan terjadilah kejar-kejaran sejak gerbang sekolah hingga koridor kelas XI IA ini. Keributan pagi yang ditimbulkan dua gadis ini akhirnya teredam oleh suara “lolongan” panjang bel tanda masuk kelas.

“Untung aku ga sekelas sama Early,” Anin membatin sambil tersenyum ketika sampai di depan kelasnya sendiri dan terlepas dari ancaman timpukan buku Early. Diambilnya hand phone di saku roknya, mengetik beberapa huruf dan sent to sebuah nomer yang terletak di list paling atas phone book-nya—Early yang mengaturnya begitu, “Biar gampang,” katanya—.

Dan sebuah senyum puas tergambar di wajah Anin, setelah melihat tanda sms terkirim di layar hand phone-nya.

* * *

Istirahat pertama,

“Anin . . . !” sebuah suara terdengar keras dari ujung lorong depan kelas.

Sementara si pemilik nama yang baru saja dipanggil malah lari menghilang, menghindari si pemilik suara yang tampak kesulitan menembus kerumunan siswa yang berhamburan keluar kelas bersamaan di istirahat pertama ini.

Tadinya Early ingin mengejar, tapi diurungkan niatnya itu. Karena jelas semakin tidak mudah menembus suasana istirahat yang ramai—lebih tepatnya semrawut—untuk menemukan sahabatnya itu.

“Maksudnya apa sih, Anin pake ngirim sms kayak gitu?” Early merutuk sendiri.

* * *

Pulang sekolah,

“Eits, kali ini kamu ga bisa menghindar lagi,” Early menghadang Anin di depan pintu kamar kos mereka.

“Hehe . . . “

“Nin, ada apa sih sebenarnya sama Imam. Ada info apaan, koq aku ga tau sih?” ucap Early tidak sabar.

“Nyante dikit kenapa sih, Non.”

“Nin . . . ,“ Early pasang tampang terjuteknya. Senjata jitu yang selalu bisa meluluhkan Anin, setidaknya sampai saat ini.

“Iya, iya. Gini ceritanya, jadi Imam si penyiar alias pak Ardi guru baru di SMA kita itu emang udah ga siaran lagi, soalnya . . .”

“Apa?!” Early memotong ucapan Anin tidak sabar.

“Sabar dikit kenapa sih. Aku kan belum selesai ngomong.”

“Iya, iya, sorry.”

“Jadi, dia itu emang udah ga siaran lagi. Kamu tahu ndiri lah, gimana sibuknya SMA kita. Bukan Cuma siswa yang selalu dihujani seabrek PR dan tugas, tapi guru-gurunya juga penuh dengan proyek. Gitu ceritanya,” Anin mengakhiri ceritanya.

Early menarik nafas dan melepaskannya perlahan. Seolah sebuah beban berat tiba-tiba datang memenuhi hati dan pikirannya.

“Jadi, kalau malam aku ga ditemenin sama Imam lagi nih. Terus, gimana aku bisa konsen belajar kalau gini ceritanya, hiks . . . “

“Aduh non, jangan lebay please. Kan yang ga siaran cuma Imam. Acaranya masih tetap ada kan,” ucap Anin mencoba menghibur sahabatnya itu.

“Iya sih, tapi kan ga seru. Suaranya ga se-merdu Imam . . . ,” protes Early.

“Hah! Jadi beneran nih, kamu naksir Pak Ardi?” ucap Anin tanpa basa-basi.

“Anin!!!” Early berteriak sambil mengambil bantal dan bersiap melemparkannya ke arah Anin.

Tapi rupanya Anin lebih gesit menghindar dari timpukan bantal Early. Dan jadilah kamar kos seluas tiga kali tiga meter itu berantakan oleh perang bantal yang dimulai Early. Setelah hampir setengah jam lamanya, kegaduhan siang itu akhirnya berhenti menyisakan kamar yang sangat mirip kapal pecah dan dua orang gadis yang duduk di lantai kelelahan.

“Eh, Nin. Ngomong-ngomong kamu dapat info soal Imam tadi dari mana?”

“Ada aja, hehe.”

“Rese ah.”

“So, yang bener yang mana nih. Yang kamu taksir dari pak Ardi itu apanya?”

“Ada aja . . . ,” Early tidak mau kalah.

* * *

Tiga tahun kemudian

“Oke pemirsa, kali ini kita kedatangan tamu spesial yang banyak ditunggu kaum muda. Sukses dengan novel inspiratif berjudul “My Teacher and Me”, kita sambut Early Pangesti.”

Tepuk tangan meriah menyambut kehadiran sesosok gadis berambut panjang yang memasuki panggung. Hari ini adalah hari yang tidak kalah istimewa untuk Early. Setelah malam kemarin ia mendapat penghargaan “Novel Remaja Inspiratif” tingkat nasional untuk novel terbarunya, malam ini ia dihadirkan secara khusus dalam acara talk show di salah satu stasiun televisi swasta nasional.

Selama hampir sejam berikutnya, Early disibukan oleh pertanyaan si moderator dan beberapa audiens terkait novelnya itu.

“Novel keren ini, pasti tidak bisa terlepas dari inspirasi di belakangnya. Apa dan siapa inpirasi itu, kita tanyakan langsung pada penulisnya. Gimana, Early?”

Early tersenyum mendapat pertanyaan di moderator. Angannya melayang pada tiga tahun silam, yang akhirnya harus dikatakannya malam ini.

“Ya, benar sekali. Ada inspirasi di balik novel ini. Mereka adalah sahabat saya, Anin dan seorang inspiring-man, Imam si pria supel rasa apel,” Early mengakhiri penjelasannya dengan senyum lebar terkembang.

“Wow . . . kira-kira seperti apa sih, the inspiring person ini? Wah tapi sayang sekali, rupanya waktu belum mengizinkan kita berbagi tentang hal yang satu ini. Mungkin di lain kesempatan kita akan bahas lebih dalam lagi. Dan oke, Early ada closing statement mungkin sebelum kita mengakhiri acara ini?” tawar si moderator.

“Iya. Yang pertama trim’s untuk semua inspirator dalam hidup saya. Khususnya untuk novel ini, sahabat saya, Anin. Yang tetap sabar selama tiga tahun menghadapi tingkah ‘ajaib’ saya. Dan the inspiring-man, Imam pria supel rasa apel. Bukan karena ganteng, bukan suaranya, bukan karena guru baru yang penuh pesona, tapi karena banyak inspirasi yang pernah tercipta. Trim’s, my teacher my inspiration.”

Acara talk show ini diakhiri oleh tepuk tangan meriah audiens di studio yang sebagian besar remaja.

Sementara di belahan bumi yang lain,

Ada sesosok gadis yang juga tengah bertepuk tangan sambil sesekali mengusap air mata di pipinya. Air mata bahagia. “Aku bangga sama kamu, Ly.”

Seorang pria juga menutup sebuah buku sambil tersenyum. Sebuah senyuman bangga, seorang guru . . .

Cerpen - Trims Cerpen - Trims Reviewed by Bening Pertiwi on Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.