Story - Katanya, Gue Easygoing

Menurut kamus, easygoing (kata sifat) bisa diartikan dengan lembut hati, bersikap tenang, gampang-gampangan, lunak, permudah. Persamaannya adalah cushy, soft dan easy. Tapi, dalam kamus bahasa Indonesia, diartikan sebagai suatu sikap menggampangkan pekerjaan atau lebih tepatnya suka menunda pekerjaan. Menunda hati kaleee


‘Label’ ini disematkan salah seorang cowok yang pernah gue suka, dan sekarang pun masih jadi temen gue. Entah apa alasan dia menyematkan label itu sama gue. Gue sendiri tadinya nggak bener-bener ngerti artinya. Gue Cuma berpikir, itu sesuatu yang berhubungan sama siap cuek gue yang kadang kebangetan sama tingkat kepekaan gue yang terlampai di bawah ambang batas. Tsh

Setelah googling, sedikit banyak gue dapet beberapa sumber/ulasan soal ‘label’ ini. Dan sifat satu itu, ternyata ada bagus dan jeleknya. Gue bahas deh.

1. Tidak suka membesar-besarkan masalah

Rada bingung juga sih, menerjemahkan yang ini. Ya sih, saking cueknya gue kadang ‘bertampang’ flat atau datar saat ketemu masalah. Mungkin baiknya, gue jadi nggak gampang panic, dan lebih bisa berpikir dengan kepala dingin. Sayangnya, saking tenangnya, kadang loading gue cukup lama, dan nggak bisa cekatan. Alhasil reflek gue kadang parah. Kadang sih. Tapi, bagi temen-temen gue, ini adalah salah satu hal yang sedikit banyak membantu. Jadi, kalau pada panic, nggak bareng-bareng ya, hahaha

Terus kalau ada masalah, gue akan cenderung cuek. Ada masalah, ya udah sih. Nggak usah curhat kesana kemari, ngeluh kesana kemari. Diselesaikan satu per satu, pasti akan selesai. Masalah besar atau kecil, ya udah sih jalanin aja. Gitu aja kok repot. (berasa jadi cucunya mbah Gusdur, ups) Gue nggak terlalu suka mikir banyak, bahkan sampai susah tidur atau nggak doyan makan. Kalau ngantuk, ya tidurlah. Laper, ya makanlah. Males mikir terlalu berat. Melihat dari sudut pandang berbeda. Masalah itu dinikmati, diselesaikan dan dipanen hasilnya. Aheeeem …

2. Tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan

Kalau yang ini agak … hmmm. Bisa iya, bisa enggak. Gue susah move on dari kenangan manis, terutama kalau udah masalah hati. Nah, tapi klo soal kesalahan orang, gue dengan mudah memaafkan dan melupakan. Sayangnya, ada satu sisi dalam diri gue yang nggak mau nerima ini. Alias, dalam beberapa kasus tertentu yang cukup parah, gue masih nyimpen kenangan buruk alis dendam sama mereka. Hiyyyy!!!

Soal masa depan ya. Dulu, apa yang gue pikirkan sederhana aja. Lulus kuliah, kerja terus nikah. Gue bukan tipe terlalu khawatir dengan apa yang terjadi di masa depan gue. Meski kadang, gue juga memikirkanya. Rencana? Jelas ada. Cuma gue nggak mau terlalu ngoyo dan ngotot dengan rencana itu. Gue sih fleksibel aja. Kalau nggak terlaksana, ya berarti jalankan rencana kedua, ketiga dan seterusnya. Tapi, tapi nih ya. Dalam beberapa kasus tertentu, yang lukanya cukup membekas dalam, gue akan susah memaafkan. Dan takut menghadapi masa depan yang sama.

Yang gue lakukan sekarang? Berusaha keras, kan hasilnya tinggal serahkan sama Yang Maha Kuasa. Itu aja sih.

3. Tidak mau pusing dengan sesuatu yang di luar kontrolnya

Males ambil pusing sama hal yang nggak diketahui atau di luar kontrolnya. Ini sih gue banget. Kalau ada yang gue nggak ngerti, nggak paham, nggak menguasai, ya udah sih. Ngapain juga dipikir ribet. Toh udah ada yang menguasai dan mengontrolnya. Bukan berarti gue nggak mau berusaha, tapi gue mencoba realistis. Gue nggak bisa nyanyi, karena suara gue pas-pasangan cenderung sumbang. Gue buta nada, bahkan pernah ada guru seni yang bilang kalau aneh melihat gue. Gue cukup jago di bidang lain, tapi main musik nggak bisa. Awalnya sih sakit hati. Secara, itu guru gue. Tapi lama-lama, cuek aja sih. Ya udah sih nggak bisa main musik, toh gue masih bisa melakukan hal lain.

Jadi inget quote tadi sore. Daripada memikirkan terlalu serius sesuatu yang nggak bisa kamu lakukan, mending melakukan apa yang bisa dilakukan dengan serius. Selesai deh masalah. Duh, gue emang nggak demen ribet sih ya.

4. Kepribadian yang lebih disukai pasangan

Nah ini yang gue suka. Mungkin karena sikap easy going ini nggak suka ribet dan terlalu memikirkan sesuatu. Nggak gampang khawatir juga. Mudah memaafkan, mudah melupakan dan optimis.
Meski kadang nyebelinnya, adalah nggak perhatian dan nggak peka. Itu sih gue banget. Nggak suka nyari-nyari masalah juga. Ah, bahagianya. Mungkin itu juga yang disukai oleh temen-temen gue, nggak ribet dan nggak suka ngeribetin orang. Jalan tinggal jalan aja, pake baju yang ada. Nggak harus ribet nyetrika, make-up, dandan panjang. Sayangnya, ini jadi boomerang buat gue. Gue susah untuk menolak saat temen-temen gue minta tolong. Padahal kan nggak selalu gue bisa bantu mereka. Kalau gue longgar sih, ok-ok aja. Tapi kalau nggak longgar, kan gue jadi maksa.

5. Berantakan

Menurut primbon golongan darah, darah gue yang B membuat gue tipe lumayan berantakan. Tapi, masa iya? Kalau dari sisi psikologis lebih tepatnya narsis kali ya. Di luar, kelihatan rapi, bersih dan semua ada di tempatnya. Tapi, kadang suka menyimpan hal kecil aneh, dan berantakan yang tertutup oleh kerapihan.

Tapi, dulu waktu masih di organisasi, gue termasuk rapi loh. Bahkan gue sering marah-marah sama anak-anak, kalau barang nggak dibalikin ke tempat asalnya. Dan pekerjaan rutin gue di pagi hari saat baru tiba di sekre adalah beberes sekre dan nyapu2. Itu juga kali ya, yang ngebut gue diminta jadi sekretaris sama tu cowok. Aiiiih

Ah, tapi sikap non-berantakan yang gue punya kayaknya itu karena nyokap gue juga. Di rumah, nyokap—yang golongan darahnya sama kayak gue—adalah tipe orang rapih. Kalau ada sesuatu yang habis dipakai dan nggak balik di tempatnya, bakalan heboh dah. Mungkin ini baiknya. Jadi, sedikit sifat jelek easygoing gue bisa terkikis dan tergantikan dengan hal baik.

Cuma mikir aja, apa ntar setelah jadi emak2, gue juga akan secerewet itu ya? hmmm … ampun

6. Tidak perhatian dengan detail

Yang ini juga kayaknya kurang tepat deh. Maksudnya, gue bisa on-off. Kadang gue akan peduli banget sama detail. Kadang, gue nggak peduli hal detail. Nggak terlalu warna baju yang gue pake matching atau nggak. Atau, nggak terlalu ‘ngeh’ kalau ada temen yang butuh bantuan. Huaaaa. Atau kadang gue melewatkan detail kecil. Gue Cuma focus pada intinya aja. Ya, pemikiran gue kayak anak SD, melihat hal besar baru melihat detail atau hal kecilnya.

Tapi, kadang gue juga bisa perhatian sama detail kok. Gue bahkan akan sangat perhatian pada hal yang gue suka dan gue kuasai. (lagi2) apalagi kalau udah berhubungan sama pelajaran fav gue, matematika. Gue nggak akan cepet puas, bahkan ‘metani’ (bahasa jawa) satu per satu sampai bosen. Hahaha … sayangnya gue cepet bosen.

7. Pelupa

Yang ini kayaknya yang paling gaswat nih. Karena nggak terlalu focus sama hal kecil atau detail, gue sering pelupa. Gue tahu ini buruk, makannya gue suka bikin list kerjaan atau kewajiban yang harus gue lakukan.

Sifat pelupa ini rupanya yang ngebut gue lebih mudah memaafkan dan melupakan kalia ya. hmmm … ada bagusnya juga sih sebenernya. Tapi tetep ya, kalau udah urusan sama orang lain, sikap ini juga nggak bisa dibenarkan juga.


Ok, itu sedikit banyak penjelasan easygoing dalam diri gue. Mungkin, dia yang ngasih label ini juga nggak terlalu mendetail memahami semua hal di atas. Tapi, gue yakin label itu diberikan karena dia merasa nyaman aja bisa bareng gue. Mungkin itu juga yang ngebuat sebagian orang lebih suka menjadikan gue sahabat, dibanding pacar. Ups, curcol.

Yang jelas, hal buruk dari sifat itu harus gue rubah. Dan yang baik, akan tetap gue pertahankan.
Story - Katanya, Gue Easygoing Story - Katanya, Gue Easygoing Reviewed by Bening Pertiwi on Februari 04, 2015 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.