Story – (Menemukan) Cowok yang Disukai

Hola halo … ternyata hiatus ngeBlog nggak enak ya. Malah jadi kecanduan mainan twitter. Hahahaha nggak salah sih sebenernya, Cuma rasanya nggak puas aja kalau Cuma nulis 140 karakter. Itu pun sering terputus alis bersambung. Ya, meski status gue saat ini masih hiatus dari post di blog satu lagi, tapi nggak apa kan ya, kalau gue posting dan update blog ini. Lagian, ini juga jadwal post juga, hampir akhir minggu.

Ahemmm … sebenernya saat ini gue nggak disarankan juga sih, mainan blog. Karena saat ini ada hal lain yang harusnya gue selesaikan. Tapi, kalau gue mampir sebentar ngBlog nggak apa kan ya? Gue nggak minta persetujuan. Terserah juga mau setuju atau nggak. Lah?
Ok, balik ke judul yang gue tulis di atas tadi. (menemukan) cowok yang disukai. Kalau cirri-ciri lagi jatuh cinta, udah pada ngerti kan lah ya. Berhubung gue cewek, gue akan bicara dari sudut pandang cewek juga. Mungkin buat temen-temen deket, juga akan tahu kalau sahabat atau temennya lagi jatuh cinta. Biasanya cirri-cirinya jelas gitu. Entah dari penampilan atau sikap sehari-hari biasanya berubah.

Nah, tapi nggak semua orang mau mengakui kalau lagi jatuh cinta. Atau ngaku sih, kalau lagi jatuh cinta atau suka sama cowok, Cuma nggak mau cerita ‘siapa’ si dia yang mengisi hati, ecieeeeh. Ini buat para sahabat, yang merasa sahabatnya lagi jatuh cinta, tapi nggak mau ngaku ‘siapanya’. Atau buat para sahabat gue, yang nggak berani Tanya apapun ke gue waktu itu, hehehe. Pengalaman gue sih, tapi mungkin ada yang sama? Ya, missal beda, anggap aja pengetahuan.

Eh tapi, kenalin gue dulu ya. Golongan darah gue B. Menurut primbon (astaga), orang B itu cenderung ekspresif dan mudah ditebak isi hatinya. Nah, biasanya saat jatuh cinta bisa ketahuan kan ya. Tapi orang B itu gengsinya tinggi, buat ngaku apa isi hatinya. Itu mah gue banget. Jadi, kadang gue itu mudah ditebak, tapi kadang juga misterius parah. Apa yang gue tunjukkan dalam sikap, seringkali beda dengan apa yang gue ucapkan. Ups, bukan berarti gue munafik lho ya. Dan itu termasuk urusan cowok.

Ok, bali ke cowok. Pertama, gue lebih suka tampil apa adanya di depan cowok yang gue suka, dibanding di depan temen biasa. Jadi, buat kalian para cowok, yang lebih sering melihat diri gue tanpa make-up, mungkin kalian cowok yang gue suka. Gue justru akan dandan dan make-up lengkap, kalau mau ketemu cowok yang gue anggap biasa, contoh temen. Sebaliknya, gue lebih suka tampil bare face atau naked face kalau di depan cowok yang gue kagumi. Meski emang sih, jerawat yang ngendon di wajah makin kelihatan, tapi gue pede aja tuh. Meski ni muka bangun tidur, masih rada berminyak, terus diajak ketemuan sama si dia, gue pede aja. Maaf deh, buat elo, kalau malah gue pamerin wajah tanpa dandanan. Gue Cuma nggak mau pakai topeng di depan elo. Gue pengen elo lihat wajah tanpa topeng make-up.
Kedua, gue lebih suka tampil dengan wajah basah setelah wudhu. Ada kebiasaan dulu, waktu masih aktif di organisasi kampus, kita akan sholat bareng di sekre. Dan tu cowok biasanya akan setia nungguin gue yang antri ambil air wudhu (cewek emang lama). Tapi justru itu momen yang gue suka. Dia ngelihat wajah gue masih basah air wudhu. Dan gue justru suka hal itu. Rasanya adem aja. Apalagi habis itu, sholat jamaah bareng. Huaaaaaa … itu keren.

Ketiga, baju. Gue lebih suka pakai baju super kasual di depan cowok yang gue suka. Bukan berarti gue nggak feminim atau (yang paling parah) gue nggak punya baju feminim. Gua punya kok. Tapi gue lebih suka tampil santai tanpa terlalu rame. Cukup jeans dan kaos. Menurut kalian para cowok gimana? Ada yang bête ya. Udah disamperin, dikira dandan cantik, eh malah cuka disuguhin jeans sama kaos. Ya maaf deh. Gue lebih suka tampil nyante dan keliatan simple, nyaman serta easy going sing.

Menurut tu cowok, gue itu easy going. Hmmm, sebenernya gue mikir, arti kata easy going itu apa. Tapi, itu gue bahas lain kali aja deh.

Keempat, gue lebih suka bersikap (sok) tangguh di depan cowok yang gue suka, daripada jadi cewek manja. Biasanya kan kalau di depan cowok yang disukai, pengennya apa-apa dibantuin. Apa-apa diperhatiin. Tapi, kalau gue sebaliknya. Gue lebih suka jadi tangguh. Ya, meski pada akhirnya dia tetep tahu juga sih, gue nggak setangguh itu. Tapi gue tetep berusaha jadi cewek tangguh, yang nggak tiap menit sms, minta ditolongin, minta dibantuin. Cukup kasih tahu aja, apa yang lagi dilakuin, tanpa harus minta tolong. Eh tapi, kesannya itu minta tolong dink ya, hehehe. Tapi, pada saat ditawarin bantuan, belom tentu juga gue langsung terima kok.

Kelima, gue akan bersikap galak sama dia. Berusaha ngimbangin becandaan dia, tapi nggak pernah bisa beneran marah sama dia. Ya, gue nyaris nggak pernah bisa beneran marah. Paling cuka kesel, sebentar juga ilang. Entah kenapa. Meski anak-anak lain di organisasi pernah cerita sama gue, pernah dimarahin sama dia, tapi dia juga nggak pernah marah sama gue.
Yup, itu sebagian kecil cerita gue. Hmmm … nggak yakin juga sih, ada yang ngalamin kayak gue gini. Tapi mungkin aja ada, tipe cewek lain di dunia ini yang kayak gue. Semakin akrab, justru gue akan semakin cari2 masalah buat diperdebatkan sama tu cowok.

Yang Tanya kabar cowok itu, dia baik-baik aja. Yang Tanya apa gue dan dia akhirnya jadian, ya sih. Pada akhirnya gue nggak pernah jadian sama dia. Mungkin sikap gue itu, sama sekali nggak menunjukkan rasa tertarik gue sama dia. Dan mungkin saja dia menyimpulkan kalau gue nggak suka dia, dan akhirnya Cuma anggap gue temen.

Ah sudahlah. Gue Cuma berpikir aja sih. Mungkin memang ada beberapa hal yang harus gue rubah dari diri gue. Mungkin gue harus lebih bisa ekpresif menunjukkan perasaan gue. Terus gue juga harus lebih acuh sama dia, perhatian hal-hal kecil, yang jelas nggak ragu atau malu menunjukkan perhatian itu.

Tapi gue seneng, karena kita masih temenan sampai saat ini. Meski komunikasi kita lebih jarang, dibanding bertahun lalu. CU my little sunshine
Story – (Menemukan) Cowok yang Disukai Story – (Menemukan) Cowok yang Disukai Reviewed by Bening Pertiwi on Januari 29, 2015 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.