OPINI - Jarimu, Harimaumu—Ketika Media Sosial Berbuntut Meja Hijau (part 2 end)

Ada beberapa hal yang seharusnya diperhatikan para pengguna media sosial khususnya dan internet umumnya. Pertama, sikap menahan diri. Media sosial memang bebas digunakan. Para pengguna pun bebas mengekspresikan apa pun yang ada di pikirannya dalam media sosial. Tetapi, norma yang ada di masyarakat Indonesia memiliki batasan untuk berkata-kata atau bersikap. Setiap kebebasan memiliki batasan, yakni kebebasan orang lain.


Kedua, bijak dalam mengekspresikan diri. Setiap pengguna media sosial berhak dan bebas mengekspresikan dirinya termasuk menyebarkan informasi pribadi. Tetapi, ada batasan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh untuk dikonsumsi publik. Setiap hal yang telah dipublikasikan otomatis menjadi milik publik. Jika para pengguna media sosial tidak bijak memilih maka resiko informasi pribadi diketahui secara luas bahkan digunakan untuk kepentingan lain, tidak dapat terhindarkan lagi.

Ketiga, media sosial bukanlah tempat sampah. Meski setiap pengguna bebas menuliskan apa pun di media sosial miliknya, tetap tidak dibenarkan jika media sosial menjadi tempat sampah setiap keluh kesahnya. Karena toh belum tentu apa yang “dicurhatkan” di media sosial akan menemukan solusinya. Bahkan tidak jarang terjadi kasus “sampah” atau “keluhan” yang diunggah di media sosial justru menjadi lelucon pihak yang bertanggungjawab.

Kasus Florence rupanya masih belum cukup memberikan pelajaran bagi para pengguna media sosial. Menyusul tidak lama setelahnya, muncul nama Kemal Septian yang dengan akun twitternya @KemalSept berceloteh tentang kota Bandung. Nyaris seperti kasus Florence, cuitan Kemal juga bernada menghina, tidak hanya bagi kota Bandung tetapi juga wali kotanya. Hanya saja, sejak namanya menjadi tenar dan dibully banyak pihak, akun ini mendadak tidak aktif.

Kasus Kemal ini sedikit berbeda dengan kasus Florence. Karena saat ditelusuri, tidak ditemukan cuitan Kemal sebelumnya yang bernada menghina. Sehingga, ada kemungkinan jika kasus Kemal ini lebih condong pada “ingin tenar” lewat media sosial. Tidak seperti kasus Florence yang sampai meja hijau, kasus Kemal hilang dengan sendirinya seiring hilangnya akun Twitter tersebut.

Salah satu pengguna media sosial lain yang cukup aktif dan “vocal”
adalah Farhat Abas. Lewat akun Twitternya, kicauan pengacara ini seringkali menyinggung berbagai pihak. Bahkan, dalam cuitannya beberapa hari yang lalu, Farhat mengatakan tentang “ikut berduka cita atas meninggalnya pembaca acara Olga Syahputra”. Cuitan ini mengundang komentar berbagai pihak, lantaran apa yang dikatakan Farhat belum dapat dipastikan kebenarannya.

Ketiga kasus di atas sebenarnya adalah contoh para pengguna media sosial masih belum bijak dalam bersikap. Mereka masih belum bisa memilih mana yang harus diungkapkan pada publik, serta mana yang tidak perlu dikatakan.

Kasus-kasus ini hendaknya menjadi contoh bagi para pengguna media sosial. Karena, apa pun yang dicuitkan, bisa saja berakibat panjang dan fatal. Mungkin mereka akan “mendadak” terkenal. Tapi, apalah artinya terkenal jika terkenal karena keburukannya?

Terimakasih
Yogyakarta, 20 Desember 2014
OPINI - Jarimu, Harimaumu—Ketika Media Sosial Berbuntut Meja Hijau (part 2 end) OPINI - Jarimu, Harimaumu—Ketika Media Sosial Berbuntut Meja Hijau (part 2 end) Reviewed by Bening Pertiwi on Januari 24, 2015 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.