OPINI - Jarimu, Harimaumu—Ketika Media Sosial Berbuntut Meja Hijau (part 1)

Pada akhir 2014 silam, Google baru saja mengeluarkan rilis kata kunci yang paling banyak dicari di Indonesia. Selain pemilihan presiden dan bencana alam yang terjadi pada tahun 2014, publik juga dihebohkan dengan nama seorang mahasiswa S2 di Yogyakarta, Florence Sihombing.



Nama Florence Sihombing mendadak terkenal dalam waktu sehari akibat cuitannya di akun path pribadinya dianggap oleh sebagian orang menyinggung masyarakat Yogyakarta. Tulisan ini tidak dibuat untuk menghakimi kasus yang menimpa mahasiswi asal Medan tersebut, tetapi sebagai bentuk refleksi jika hal serupa juga terjadi atau menimpa orang terdekat kita.

Dalam cuitannya, Florence mengatakan sejumlah penghinaan terhadap masyarakat Yogyakarta serta ungkapan lain yang meminta agar teman-temannya yang tinggal di kota lain seperti Jakarta dan Bandung jangan mau tinggal di Yogyakarta. Sejumlah respons pun bermunculan. Tetapi, sebagain besar respons tersebut berkesan menyudutkan Florence.

Jika dilihat lebih jauh, kasus Florence ini sebenarnya bukan sepenuhnya salah yang bersangkutan. Banyak orang yang berkomentar negatif atas perilaku Florence saat melakukan pengisian bahan bakar di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), yang merupakan awal mula cuitannya di Path. Tidak sedikit juga yang menyorakinya. Tetapi, apakah mereka yang melakukan hal itu tahu apa yang terjadi pada Florence sebelumnya? Dan apa yang menyebabkan Florence melakukan hal itu?

Selain cuitan paskainsiden pengisian bahan bakar di SPBU, rupanya sejumlah cuitan Florence tentang Yogyakarta juga pernah beredar di media sosial pribadinya. Dari beberapa cuitan itu, tampak jika Florence sebenarnya sudah merasakan tidak nyaman berada di “lingkungan” Yogyakarta sejak lama. Sehingga, dapat disimpulkan jika cuitan Florence paskainsiden SPBU adalah akumulasi kekesalannya yang telah menumpuk sekian lama. Selain itu, cara Florence mengungkapkan kekesalannya lewat media sosial juga mengindikasikan tidak adanya teman yang bisa ia percaya untuk mendengarkan keluh kesahnya.

Jika ditelisik lebih jauh, ada kemungkinan jika hal ini berkaitan dengan ketidakmampuan Florence untuk menyesuaikan diri dengan tempat tinggalnya sekarang. Di tempat tinggal yang baru dan berbeda dengan tempat asalnya, bukan hal mudah bagi seseorang untuk melakukan penyesuaian diri dengan cepat. Perpindahan dari kota besar seperti Jakarta atau Bandung ke sebuah kota ‘kecil’ seperti Yogyakarta, bagi Florence, bisa saja membuatnya merasa frustasi dan terasing bahkan tidak memiliki teman. Tentu ini bukanlah hal yang harus disalahkan.

Media sosial apa pun, seperti Twitter, Facebook, Instagram, atau Path adalah cara seseorang untuk berkomunikasi dan terhubung dengan kehidupan sosialnya. Artinya, setiap hal yang dituliskan di sana, akan menjadi konsumsi publik.

Dalam kasus ini, Florence rupanya tidak bijaksana menggunakan media sosial yang ia miliki. Mengungkapkan kekesalan bukanlah hal yang keliru jika dilakukan di tempat dan dengan cara yang tepat. Tetapi, jika dilakukan dengan cara dan tempat yang keliru maka akan berakibat buruk bagi si pengguna sendiri. Terlebih, “cuitan” yang dibuat Florence menyangkut sebuah kota bersama budaya dan masyarakatnya. Bagi sejumlah pendatang, bahkan bagi masyarakat asli, Yogyakarta bukan hanya sebuah kota saja. Yogyakarta adalah ikon sekaligus simbol budaya. Dan, norma-norma sosial yang ada di sana masih kental terjaga, baik oleh penduduk asli sendiri maupun pendatang.

Ketidakmampuan Florence dalam beradaptasi dengan kehidupan Yogyakarta membuatnya bersikap agresif dan menumpahkan kekesalannya di media sosial. Cuitannya yang bernada hinaan ini kemudian membuat sebagian besar orang berasa berang, bahkan hingga melakukan bullying padanya.

Sikap seseorang dalam menggunakan media sosial, adalah mutlak diperhatikan. Dalam undang-undang IT, memang tidak disebutkan secara terperinci hal apa saja yang boleh dan tidak boleh diungkapkan dalam media sosial. Tetapi, norma yang berlaku di “dunia nyata” tetaplah hal yang juga berlaku di “dunia maya”.

Sikap Florence yang tidak mampu menahan diri dari meluapkan kekesalannya di media sosiallah yang seharusnya dibenahi. Begitu juga dengan orang-orang yang menanggapi cuitan mahasiswa S2 UGM ini. Selayaknya, jika Florence maupun netizen—pengguna internet—yang lain dapat menahan diri, hal ini tentu tidak harus terjadi.

sampai jumpa di PART 2
OPINI - Jarimu, Harimaumu—Ketika Media Sosial Berbuntut Meja Hijau (part 1) OPINI - Jarimu, Harimaumu—Ketika Media Sosial Berbuntut Meja Hijau (part 1) Reviewed by Bening Pertiwi on Januari 17, 2015 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.