Story – (Gagal) Move On dan (Apalagi) Move Up di November-Desember

Gue gatel buat cerita hal ini. Entah ada yang baca, ato nggak. Gue nggak mau ambil pusing. I have done something stupid.

Kemren, setelah sekian lama, gue iseng mengetikkan nama itu di google search. Dan … tanpa terduga, ternyata nama itu pun muncul. Bukan nama sebenarnya, tapi fotonya. Foto yang pertama kali gue lihat lagi setelah bertahun berlalu. Dan, itu ternyata ada di profil linkedin-nya. Dan setelah sekian lama juga, gue akhirnya memperbaharui profil linkedin gue. Bukan nama pertamanya yang digunakan. Tapi nama tengah dan belakangnya. Pun lengkah dengan julukannya.

Dia ada di pulau seberang ternyata. Tidak lagi di pulau ini. Dan … sekali lagi, sederet pengalaman kerjanya membuat gue iri setengah mati. Betapa tidak, hanya dalam beberapa tahun saja, pengalaman kerjanya dan posisinya sudah sebegitu luar biasa menakjubkan. Dan dia … seorang guru, meski dia bukan dari jurusan pendidikan. Kesibukan yang sebisa mungkin selalu ingin gue hindari.
Sejujurnya, gue takut kalau tulisan ini dibacanya. Karena rasanya kurang pantas, di posisi gue ini dan situasi dia saat ini, membaca tulisan ini.
Tapi jemari gue masih belum mau berhenti. Gue masuk ke twitter, dan memasukkan namanya seperti dalam profil linkedin-nya. Ada!!! Ada dia. Meski tidak sesering gue, tapi dia cukup aktif disana. Profilnya singkat, dady, husband, entrepreneur. Gua scroll-scroll, dan menemukan banyak twit lamanya yang bagus. Dan … lagi-lagi, gue nggak bisa menahan jemari gue untuk menekan ‘retwet’. Alhasil, dua cuitan dia pun nangkring di halaman gue. Bodoh kan? Kenapa gue nggak memikirkan konsekuensinya sih?
Dan tahu apa yang terjadi? Tidak lama setelahnya dia mention gue. Dan dia masih ingat siapa gue. Gue kelabakan mau jawab apa. Rasanya tidak sopan—dan mungkin dianggap sombong—kalau gue nggak bales mention dia. Tapi, posisi gue dan situasi dia itu berbeda. Akhirnya gue balas mention dia. Sayangnya, sampai saat ini dia nggak balas balik.
Sesungguhnya, ada kelegaan yang tiba-tiba gue rasakan, meski gue takut kalau buka twitter. Takut kalau dia balas mention gue dan berpikir macam-macam. Ya, ini untuk pertama kalianya gue mainan twitter, gue berharap kalau pesan gue nggak perlu dibalas. Gue lega sekaligus takut.
Gue tahu, gue nggak boleh terbawa suasana. Apapun itu. Tapi, entah kenapa seberkas kekaguman kembali memenuhu rongga dada gue. Kekaguman atas prestasi dan jejak yang telah ia torehkan selama ini. Dia yang berubah menjadi sosok teladan. Dan sekali lagi, gue tidak pernah menyesal pernah mengaguminya. Dan akan tetap mengaguminya sampai kapanpun.
Gue nggak boleh terbawa suasana. Jelas itu!!!
Ah, kenapa kenangan lama ini kembali mengusik gue? Dan semua hanya karena ulah konyol dan stupid gue. Coba gue nggak perlu retwet status dia. Kan nggak akan jadi gini masalahnya. Nggak akan seribet ini jadinya. Meski sebenarnya keribetan ini ada dalam diri gue sendiri, tapi tetap saja, rasanya sulit untuk dijalani.
Dan ini akhir November-awal desember. Saat kisah itu pertama kali bermula, 13 tahun silam. Biasanya, gue hanya akan mengenang momen ini dengan memandangi hujan sambil membuat puisi atau tulisan tentang dia. Tapi, entah kenapa saat ini, gue merasa berbeda. Ya Rabb, aku mohon. Semoga ia tidak berpikiran apa-apa soal aku. Dan jauhkan pikiran nggak jelas di otakku ini.
Gue hanya ingin menyimpan semuanya sebagai kenangan. Kenangan indah yang nggak akan pernah ada gantinya dan nggak akan pernah terhapus oleh apapun. Dan sekarang, gue hanya ingin move on dan move up. Gue nggak mau lagi gagal move on.
Gue bersyukur, disana ia baik-baik saja. Disana ia bahagia bersama istri dan ketiga anaknya. (yang ini keren, suer). Mantap benar dia udah punya tiga anak. Allah menjawab doaku yg satu ini. Kebahagiaan untuk seseorang yang pernah gue sayangi, dan selalu gue kagumi.
Kalau gue punya kesempatan untuk berbicara denganya, gue Cuma pengen bilang.
Gue bahagia, melihatmu bahagia. Ijinkan gue mengikuti jejak elo, menorehkan sejarah (sekali lagi) dan menjadi berguna untuk orang-orang di sekeliling gue. Dan tentu saja, merekahkan kebahagiaan untuk orang-orang di sekeliling gue.
Thanks, my first inspiration
Story – (Gagal) Move On dan (Apalagi) Move Up di November-Desember Story – (Gagal) Move On dan (Apalagi) Move Up di November-Desember Reviewed by Bening Pertiwi on Desember 06, 2014 Rating: 5

4 komentar:

  1. Speechless, tapi yang aku tahu tahu kamu bener.

    Dan OMG! Love you very much! (dalam artian sayang yah.. tenang aku bukan penyuka sesama jenis kok! wkwkwk XD)

    Salam,
    Putri Nadia

    BalasHapus
  2. hai putri
    terimakasih komen-nya
    wah gak nyangka ternyata ada juga yg baca tulisan ini
    jadi malu deh

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. keren? maksudnya?
      hahahaha
      duh, jadi malu deh
      knp postingan ini sih yg dikomen malahan

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.