#KampusFiksi: Pemantik yang Tidak Boleh Padam

Pada saat keluar dari pintu ruangan pelatihan #KampusFiksi edisi non Fiksi, kami dibekali setumpuk buku dalam sebuah kardus cokelat—atau putih—. Saya baru tahu, jika tumpukan buku itu tidaklah ringan. Bahkan, saat kembali ke kos, rasa pegal pun masih terasa hingga sehari setelahnya. Jangan tanya seperti apa rasanya, karena minyak kayu putih masih belum cukup melenyapkan penumpukan asam laktat—baca: pegal—di lengan dan pundak ini.
Maaf, Kawan, tapi tolong jangan kecewa. Tulisan ini tidak akan membahas seperti apa momen-momen menyenangkan selama #KampusFiksi kemarin. Karena saya percaya, Kawan, momen-momen itu tidak akan cukup hanya dituangkan dalam tulisan singkat setara halaman A4 yang kemudian dipajang di blog atau catatan Facebook. Karena momen itu sudah cukup melewati setiap sinapsis penghubung antar neuron, yang akan tetap dikenang dalam salah satu lapisan otak yang menyimpan ingatan jangka panjang, semoga.
Tulisan ini akan menceritakan hal lain, Kawan.

Setelah kembali ke “dunia nyata” kehidupan sehari-hari, saya baru menyadari bahwa “jadi seperti ini beban sebanyak 50 buku”. Baru 50 buku saja, rasanya sudah sungguh berat, Kawan. Bagaimana dengan ratusan, bahkan ribuan?
Kawan, ini bukan tentang jumlah buku atau berapa banyak massa—kata “berat” kurang tepat untuk menyatakan ukuran timbangan—buku itu. Tulisan ini tentang apa yang akan kita lakukan setelah keluar—atau lulus—dari #KampusFiksi.
Berapa banyak pelatihan menulis yang pernah kau ikuti, Kawan? Ada yang mengatakan satu, dua, tiga bahkan banyak. Itu bukanlah hal yang mengherankan, karena setiap pelatihan kepenulisan memang selalu sesak diminati peserta. Mereka yang menyemai mimpi dan berharap memetik hasilnya laiknya seorang petani yang memetiknya buah matang di kebunnya.
Kawan, kemarin memang tidak ada yang mengatakan berapa banyak teman-teman lain—dari 10 angkatan #KampusFiksi—yang sudah berhasil menelurkan karyanya. Bahkan saya juga tidak menanyakannya. Bukan karena saya tidak ingin tahu, tapi karena saya menyadari, semua orang tengah berproses menuju tujuannya. Sebenarnya, itu semua justru baru awalnya. Titik awal sesungguhnya adalah saat baru saja melangkahkan kaki keluar dari pintu ruangan #KampusFiksi. Apa yang akan saya lakukan setelah ini?
Dalam salah satu materi, Pak Edi memperlihatkan “pemantik dan apinya”. Seperti itulah pelatihan kepenulisan, sebuah pemantik. Api yang menyala dari pemantik itu, akan berubah menjadi besar atau tidak, semua kembali pada masing-masing individu. Mereka akan terus menghasilkan karya-karya yang jauh lebih fenomenal, atau akan hilang “melempem” di jalanan terjal calon penulis.
Ah, Kawan. Kau dan saya sama saja bukan? Kita sama-sama masih belajar. Mungkin saja, saat ini semangatmu dan semangat saya sedang begitu besar dan bergeloranya. Tapi, Kawan, kita masih belum akan tahu apa yang akan terjadi esok. Engkau yang akan meninggalkan saya, Kawan, atau saya yang akan berlari mendahuluimu.
Kawan, memiliki mimpi besar adalah hal benar. Tapi, memiliki mimpi kosong adalah hal yang keliru. Bermimpi menjadi seperti J.K Rowling, Dan Brown, John Grism atau bahkan Sydney Sheldon, yang karyanya sudah mendunia, bukanlah hal keliru. Tapi, apakah kita siap melewati setiap prosesnya? Apakah kita mampu melewati setiap jatuh bangunnya? Apakah kita siap untuk dibanting-banting, bahkan tidak jarang “terpaksa perang” dengan editor, demi sebuah tulisan yang dapat menyihir banyak orang? Dan bahkan, Kawan, ini pun masih belum selesai. Setelah tulisanmu menjadi “makanan mata” banyak orang di luar sana, perjuangan ternyata masih terus berlanjut. Pujian adalah “ujian pertama” yang akan dialami sebagian penulis. Tidak jarang, pujian “pedas” pun akan mampir ke telingamu. Atau yang lebih parah, bahkan “fitnah” yang digumamkan dari telinga ke telinga, entah oleh siapa.
Ah, Kawan, tenang saja. Tulisan ini bukan bermaksud membuatmu berhenti, memudarkan semangatmu apalagi memaksamu mundur dari jalan yang baru saja kau “colek” awalnya. Tulisan ini hanya ingin memberitahumu, jika jalan ini panjang dan di depan sana akan ada banyak kerikil dan bebatuan terjal yang siap menghalangi jalanmu. Dan lagi, tulisan ini sama sekali bukan untuk menakutimu, sungguh.
Tapi, Kawan, ternyata kau tidak sendirian. Ya, kita tidak sendirian. Kau, saya dan banyak orang di luar sana. Ada kawan seperjuangan, ada pak bos Diva yang masih menyempatkan membalas mention Twitter, ada editor yang baik—meski pedas saat membantai tulisan—dan ada pula banyak orang yang selalu mendukungmu. Bahkan ada admin yang entah wajahnya pun belum saya kenal sama sekali.
Berhentilah bermusuhan dengan “waktu”, tapi berkawanlah dengannya. Hingga “ia” pun akan perlahan melunak dan menjadi sahabat setia yang mungkin akan kita—kau dan saya—rindukan keberadaannya. Kawan, saya hanya ingin mengatakan, kalau ini baru awal. Kalimat menyenangkan yang ingin selalu saya ingat, “Sampai jumpa lagi, nanti kita tukeran buku ya”. Kalimat yang mungkin bagi orang seperti saya, yang masih perlu banyak belajar, adalah kalimat tersulit untuk diwujudkan. Hei, saya bukan pesimis lho!
Benar, Kawan. Mungkin saja jalan kita akan berbeda. Ada yang akan lebih dulu berada paling depan, tapi ada juga yang terpaksa terseok di belakang. Itulah pentingnya seorang Kawan, Sahabat, yang katanya “bukan membenarkan, tapi menjadikan benar”.
Kawan, komunitas dan pelatihan, sekali lagi, hanyalah pemantik. Akan seperti apa jalan kita setelah ini, kitalah yang akan menentukan. Lurus, mulus, terjal atau bahkan terguling hingga ke dasar jurang, itu semua pilihan, Kawan. Kawan,—kau dan saya—kita sama-sama berjuang. Ah, semoga pundak lelah ini masih cukup kuat untuk bertahan. Jangan lupa untuk tetap saling menguatkan. Tapi jangan pernah malu apalagi ragu untuk saling mengingatkan. Kritik, saran dan masukan, adalah cara untuk menjadi dewasa bersama. Bukan dewasa usia, tetapi dewasa dalam berkarya.
Ah, Kawan, tulisan ini terlalu panjang bukan? Bahkan saya melupakan “outline” saat mengawali tulisan ini. Semoga kali ini dimaafkan. Dan selamat berkarya, dimanapun kalian berada.
Psssttt! Saya sering malu jika ada yang bertanya, “Sampai mana bukumu?”. Semoga, setelah ini saya tidak perlu merasa malu lagi. Hehehehe ^_^

Bening Pertiwi
#KampusFiksi #KFnonFiksi
#KampusFiksi: Pemantik yang Tidak Boleh Padam #KampusFiksi: Pemantik yang Tidak Boleh Padam Reviewed by Bening Pertiwi on Desember 23, 2014 Rating: 5

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.