Foto ibumu

Melihatmu tidak malu-malu menyimpan dan menunjukkan foto ibumu yang kau letakkan di dompet, buatku semakin yakin, kau pria yang baik


Bertahun silam. Ya, itu udah lama banget sejak hari itu. Hari yang nggak akan gue lupakan. Hari itu, gue dan temen-temen baru pulang kemah. Dan seperti anak pramuka pada umumnya, kami naik truk bersama barang-barang kami semua.





Keluar dari bumi perkemahan, kami sempat mampir ke pantai. Diluar rencana sebenarnya, karena diajak oleh salah seorang Pembina. Dasar anak-anak, meski sudah capek setelah kemah, masih aja punya energy lebih untuk berbasah-basahan di pantai. Bahkan setelahnya, kami pun masih asyik teriak-teriak dan bernyanyi tidak jelas di atas truk yang membawa kami pulang.


Sayangnya, sebuah kejadian tragis terjadi sore itu. Di pertengahan bulan Maret yang kering. Ah … gue sebenarnya udah cerita kisah ini berkali-kali, jadi gue nggak akan ceritakan lagi disini.


Disini, gue akan cerita tentang kisah gue. Tentang cinta pertama, yang juga bersama gue di rombongan peserta kemah itu. Usianya masih relative muda, 14 tahun. Tapi dia tahu dan sadar, kalau dirinya punya pesona. Wajahnya yang di atas rata-rata, selalu tampak bersih. Kulitnya tidak putih, tapi sekali lagi ia selalu tampak bersih. Ia tahu diri, dan tahu hal itu. Ia tahu cara berpakaian yang pantas untuknya, hingga pesonanya pun semakin bersinar.


Dan meski panas bumi perkemahan dan juga keringat terus menyapanya, sekali lagi, ia tidak kehilangan pesonanya. Dalam waktu singkat, dia pun menjadi idola di bumi perkemahan. Anak perempuan tim sebelah pun tidak malu-malu mengatakan ‘suka’ padanya. Sebenarnya, bukan hanya dia saja yang jadi idola. Sebagian besar anak-anak tim kami memang jadi idola. Maklum saja, lingkungan dan juga asal ‘sunda’ yang banyak ada dalam diri kami, membuat kami lebih cepat sadar akan pesona yang ada dan mampu menunjukkannya.


Gue dan teman-teman cewek tim kami hanya bisa cekikikan saat anak-anak tim sebelah memanggil-manggil anggota putra tim kami. Hihihihi … dan setelahnya, dia pasti akan digoda habis-habisan saat kembali ke tenda.


Gue? Tentu saja gue iri. Mereka bebas mengatakan ‘suka’ pada pria-ku. Pria-ku? Hahaha … tidak tepat sebenarnya. Dia pria semua orang. Pesonanya yang membuatnya seperti itu. Meski ada terselip iri, tapi gue cukup bangga. Mereka hanya bisa melihatnya tiga hari di bumi perkemahan. Tapi gue … gue bisa melihatnya terus hingga besok-besok dan besoknya lagi. Mungkin hingga tahun depan.


Saat pulang, dia lebih memilih nongkrong di atas ‘kepala’ truk. Masih dengan terkantuk-kantuk. Selain ‘PK—perut karet’ julukannya yang lain adalah ‘tukang tidur’. Tapi meski tidur pun, dia tetap cakep, hehe.


Entah bagaimana awalnya, anak-anak tiba-tiba saja merebut dompetnya dan mulai membongkar isinya. Tidak banyak memang, tapi yang paling menarik perhatian gue adalah foto yang ada disana. Bukan foto kekasih atau wanita pujaannya, atau bahkan foto artis favoritnya. Yang ada disana adalah foto ibunya. Ya, foto ibu yang melahirkannya.


Dari sana gue tahu persis, kalau dia adalah pria yang baik. Dia tidak malu menunjukkan foto ibunya itu pada teman-temannya yang lain. Ibunya yang cantik itu. Dia yang dengan bangga dan tanpa sedikitpun rasa malu.


Hari itu, bertambah lagi satu alasan kekaguman gue padanya. Dia memang cakep, jelas. Tapi bukan itu alasannya. Setelah sederet alasan lain yang ngebuat gue tidak pernah menyesali perasaan itu. Dia mencintai wanita-nya, yaitu ibunya.


Karenanya gue tahu, meski gue nggak pernah mendapatkan hatinya, gue tahu, gue nggak pernah menyesal pernah memilihnya jadi ‘first love’ gue. Gue bangga, karena artinya gue nggak bodoh menilai orang. Gue bukan abg bodoh yang jatuh cinta hanya karena fisik saja. Gue abg cerdas, yang melabuhkan cinta gue pada orang yang istimewa. Sekali lagi, meski gue nggak pernah mendapatkan hatinya, gue tahu, dia telah mendapatkan hati gue untuk selamanya.


Meski nantinya hati gue akan terpaut pada hati yang lain, gue tahu, posisi istimewanya di hati gue, nggak akan pernah tergantikan oleh apapun dan oleh siapapun. My first love, my best man.
Foto ibumu Foto ibumu Reviewed by Bening Pertiwi on November 01, 2014 Rating: 5

2 komentar:

  1. hehe gigling sdri bc tulisn ni, Na. sweet bgt, jd inget my FL, temen berantem tp ttp aj klo dia main bola gw tungguin, gilirn gw main ma tmn2 pr, dia beliin mainan u gw. pas smp krn skul beda pasti dia nunggu d pojokn

    hira

    BalasHapus
  2. FL tetap sesuatu ya
    hihihi
    cerita tentang dia emang gak pernah ada habisnya

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.