Pengamen bis Kutoarjo-Purwokerto - part 1



Ada yang pernah baik bis jurusan Purwokerto dari Kutoarjo? Itu lho, kota di kabupaten Purworejo. Biasanya bis-nya trayek Solo-Purwokerto atau Jogja-Purwokerto. Bukan bis bisnis dengan fasilitas AC lho. Tapi bis ekonomi dengan fasilitas Angin Cendela dan tidak jarang berdiri sepanjang jalan. 

Semasa SMA, gue akrab dengan bis-bis ini. Lantaran sebulan sekali, tiap mudik, mau nggak mau gue harus naik bis ini supaya bisa transit di terminal Purwokerto. Kenapa Purwokerto? Purwokerto—seperti halnya Giwangan-Jogja—adalah terminal besar tempat transit sebagian besar bis yang masuk jalur Jawa Tengah. Nyaris semua jurusan ada di terminal ini.
Seperti gue bilang di atas, jangan harap ada fasilitas AC di bis ini. Bisa duduk pun udah jadi kemewahan tersendiri bagi bis yang nyaris tidak pernah sepi penumpang. Gue mengalami tarif bis sejak masih delapan ribu perak hingga sekarang dua puluh tiga ribu. Dan … bonus utama bis ini adalah pengamen.
Ya, pengamen. Gue nyaris nggak bisa menghitung berapa banyak pengamen yang naik bis ini sepanjang perjalan tiga jam gue. Hmmm … dan gue juga udah lupa berupa recehan yang harus gue berikan pada mereka. Gue sering harus sedia recehan ekstra.
Pernah ada seorang pangen yang menurut gue, lumayan sombong. Hari itu, seperti biasa gue mudik. Masih pakai seragam SMA dibalut jaket—gua nggak mau seragam gue kotor parah di bis—. Uang di dompet tinggal cukup buat naik bis, pun recehan yang nggak bersisa lagi. Waktu selesai nyanyi, tu pengamen minta uang. Dan recehan seratus perak yang tersisa satu-satunya di tangan gue pun gue kasihkan. Dan apa reaksinya … dia mengembalikan recehan itu ke gue. Dia bilang, ‘kalau nggak niat ngasih, mending nggak usah’. Suer, gue benar-benar tertohok. Yang bener aja, meski sedikit, itu kan rejeki, dan dia tolak. Dan lagi, dia nggak lihat apa, gue masih pakai seragam SMA. Berapa sih duit yang dimiliki anak SMA. Arrrgggghhh!!!
Ok, gue nggak menyalahkan prasangka si pengamen itu yang berpikir kalau gue nggak ikhlas ngasih. Masalahnya, dia nggak tahu kalau uang di tangan gue tinggal itu dan sedikit untuk naik bis purwokerto-majenang. Ya nggak usah ngomong gitu juga kali. Niat gue ngasih, karena gue pengen ngasih. Meski Cuma dari receh terakhir yang gue punya. Tapi … rupanya niat gue diterima lain. Huaaaa … nggak inget gue nyumpahin apa waktu itu, tapi gue nggak pernah lagi lihat si pengamen di bis-bis lain yang gue naikin. Tadinya pengen gue maki-maki tu orang, tapi niat itu gue urungkan. Gue masih inget persis, di dompet gue waktu itu memang Cuma tinggal ada selembar sepuluh ribu bulet, dan Cuma cukup buat naik bis Purwokerto-majenang.
Itu pengalaman buruk gue sama pengamen. Gue nggak menyalahkan mereka yang nyari uang dari mengamen. Cuma, gue cukup sebel aja, karena sebagian dari mereka ada yang maksa kalau minta uang. Iya, kalau yang dimintai punya uang cukup. Nah misal yang terjadi seperti gue, uang yang ada tinggal lembar terakhir? Kan kebangetan namanya. Apalagi yang dimintai cewek, huhuhu …
Oh ya, kalau dipikir-pikir, gue punya cukup banyak pengalaman naik bis ternyata 
#gambarnya diambil dari nyunyu.com, nggak nyambung ya? biarin aja deh
Pengamen bis Kutoarjo-Purwokerto - part 1 Pengamen bis Kutoarjo-Purwokerto - part 1 Reviewed by Bening Pertiwi on Oktober 18, 2014 Rating: 5

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.